Iseng-iseng saya buka file lama, dan menemukan cerpen ini. Haha.. Saya sendiri tertawa membaca cerpen bikinan sendiri. Dan ternyata, ini baru dibuat awal tahun 2012. Astaga.. Ternyata saya pernah juga mengalami masa labil itu, dan baru-baru saja terjadi. Tapi syukurlah, saya sudah sadar dan insyaf. :) Kalau tidak salah waktu itu saya ikut sebuah kompetisi yang diadakan salah satu fanspage di facebook. Semoga kalian yang membaca ini tidak mual ya.. :D
SM*SH,,SEMOGA KALIAN MEMBACA INI..
11 Januari 2012
Indah sekali langit hari ini. Biru seluruhnya dengan bercak awan
putih, tanpa mendung sedikit pun. Lampu raksasa bersinar angkuh dan
menyilau sinis kepadaku yang terduduk di teduhnya rumahku sambil
menatap 2 foto yang semenjak tadi ada di genggamanku..
“San, ayo masuk. Di luar panas sekali.” Suara ibu memecah
lamunanku.
“Sebentar lagi, Bu. Suasananya nyaman sekali di sini.” Ucapku.
Lalu ibu kembali masuk ke dalam rumah. Ya, suasana seperti ini,
persis seperti hari itu.
***
Hapuslah air matamu,,kini ku hanya datang untukmu..
Memang hidup kadang susah,,bikin gelisah..
5 Januari 2012
Sepanjang jalan menuju rumah, aku berjalan dengan sedikit langkah
melompat. Langit cerah semakin menambah kegiranganku, setelah
seharian menyerap ilmu yang padahal tidak sepenuhnya dapat ku serap.
Dari dalam saku seragamku, aku mengambil secarik kertas. Aku
tersenyum menatap kertas itu sejenak, lalu mengembalikannya lagi di
tempat ternyaman, di saku seragamku. Tidak mudah sampai aku bisa
mendapatkan tiket ini, aku tidak ingin menghilangkannya.
Kegiranganku semakin bertambah mendapati motor ayahku terparkir di
halaman rumahku. Karena itu menandakan ayahku telah pulang dari
mengajar.
“Assalamu’alaikum.” Salamku begitu melewati pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Suara ayah dan ibuku dari arah meja
makan.
Mendadak suasana di dalam rumah begitu mencekam bagiku. Dengan
langkah perlahan, aku menuju kursi di sebelah ayah. Ibu masih
menyiapkan makan siang untuk kami. Lama aku menatap wajah ayah,
apakah perasaan ayah sedang baik hari ini? Tak lama, Mamas, kakakku
keluar dari kamarnya. Setelah mencuci tanganku, berempat kami
menyantap masakan yang sudah ibu siapkan.
Sementara kami makan, aku hanya bias terdiam. Aku terus berpikir,
bagaimana mengatakan ini pada mereka. Apakah ini waktu yang tepat
untuk membicarakan ini?
“Ayah, ibu.. Sani mau ngomong.” Ucapku setelah ku lihat semua
piring telah kosong.
“Ngomong apa, San?” Tanya ayah bijaksana.
“Ayah punya uang Rp 80.000,- ga?” aku memberanikan diri untuk
menanyakan ini.
“Memang buat apa?” Tanya ayah lagi.
“Buat bayar sewa mobil, Yah.” Suaraku sedikit bergetar.
“Mobil? Maksudnya?” ayah menatapku lekat – lekat.
“Hari Sabtu besok, Sani sama temen – temen mau ke Semarang,
Yah. Rencananya kita mau nyewa mobil.” Sampai di sini tanganku ikut
bergetar.
“Lho, mau ngapain ke Semarang?" Ayah nampak kaget mendengarnya.
Aku menarik napas panjang, kemudian menundukkan kepalaku.
“Sani mau nonton konsernya SM*SH, Yah.” Ujarku lirih sambil
tetap menunduk.
“Jangan boleh, Yah.” Kali ini ibu yang bersuara.
Aku mendongak menatap ibu, kemudian beralih menatap ayah.
“Nanti yang nyetir siapa?” Tanya ayah.
“Tetangganya temen Sani, Yah. Dia juga yang punya mobil.”
Jawabku semangat. Sepertinya ada harapan aku akan diijinkan.
“Ayah, jangan boleh.” Ibu kembali mendesak ayah.
“Tapi Sani udah beli tiketnya, Bu. Sani beli pake uang Sani
sendiri kok." Kataku sambil mengambil tiket yang ada di saku
seragamku.
“Semarang itu jauh, Sani.” Ucap ayah setelah terdiam beberapa
saat.
“yAah, Ayah.. Cuma Rp 80.000,- kok.” Aku masih membujuk ayah.
“Ini bukan masalah uangnya. Kalau konsernya di Tegal boleh,
pasti ayah mengijinkan. Sani ga tau kan daerah Semarang? Sani belum
tau kan di mana tempatnya.? Nanti kalau nyasar gimana? Kalaupun
ketemu, Sani belum tentu kan bias ngobrol sama SM*SH nya langsung,
atau foto bareng? Apa nanti ga kecewa?” ayah mencoba memberiku
pengertian.
“Tapi Sani ke sananya rame – rame, Yah. Kapan lagi coba SM*SH
ke Jawa Tengah? Kemarin waktu M&G SM*SH di Pekalongan, Sani udah
berbesar hati ga nonton karna tiketnya mahal. Sekarang Sani ga perlu
ke Karawang atau Jakarta, ini di Semarang, Yah. Atau kalo ayah
khawatir, biar Mamas nemenin Sani ke sana ya?” aku menoleh pada
Mamas.
“Ga, Ahh.. Mamas mau ngurusin skripsi biar cepet selesai.”
Jawaban Mamas membuatku kecewa.
“Boleh ya, Yah. Sani pengen bnget liat SM*SH secara langsung.”
Aku kembali menatap ayah.
“Ga boleh. Nanti ayah belikan aja semua majalah yang ada berita
SM*SH nya. Kalau perlu, sama kaset dan CD aslinya SM*SH juga.”
Setelah berkata begitu, ayah mengambil Koran dan membacanya. Dan itu
menandakan keputusan ayah sudah tidak dapat lagi dirubah.
Kemudian aku berlari menuju kamarku dan mengunci pintunya. Tidak
ku pedulikan piring kotor yang masih menumpuk, yang seharusnya
menjadi tugasku untuk mencucinya. Aku membenamkan wajahku di atas
bantal, aku menangis. Aku sungguh kecewa, aku merasa ayah tidak
menyayangiku.
Genggamlah tanganku,,aku akan selalu mendukungmu setiap
waktu..
Curahkan semua kesal, amarah, lelah,,sampai hilang semua beban
itu..
***
6 Januari 2012
“Gimana, San? Hari ini uangnya harus udah kumpul lho.” Kata
temanku Pipi saat jam istirahat.
“Aku ga ikut, Pi. Aku ga dibolehin sama ayah.” Jawabku lemah.
“Kamu kan udah beli tiketnya, San. Apa ga sayang?” Tanya Pipi
lagi.
“Mau gimana lagi, aku ga punya uang.” Sekuat tenaga aku
menahan tangis.
“Mau aku pinjemin uang dulu? Boleh dech, nanti bayarnya nyicil.”
Kata Pipi.
“Beneran, Pi?” tanyaku dengan mata berbinar.
“Iya.” Jawab Pipi sambil tersenyum.
“Makasih banget, Pi.” Aku memeluknya.
Jangan hiraukan,,mereka yang benci..
Menghina penuh iri,,dan melukai hati..
Mungkin mereka ingin sepertimu,,tapi ternyata tak mampu..
***
7 Januari 2012
Saat tiba di rumah Pipi, semua teman – temanku sudah berkumpul di
sana. Setelah mengganti seragamku, aku bergegas keluar menyusul teman
– temanku. Kami bersembilan sempat berfoto bersama sebelum masuk ke
dalam mobil. Pipi duduk di sebelah supir, sedangkan aku duduk di
belakang
Semuanya terlihat gembira, tidak terkecuali aku. Akhirnya, sebentar
lagi aku akan bertemu SM*SH secara langsung. Bila mungkin, aku juga
ingin menyentuh mereka.
Mobil yang kami tumpangi berbelok ke arah kiri. Kemudian bergabung
dengan kendaraan lainnya yang melintas di jalur Pantura. Apa mungkin
SM*SH juga melewati jalan ini ya? Aku membayangkan bila mobil SM*SH
berada tepat di depan mobil kami. Kami akan mengejar dan
menghentikannya. Lalu kami ikut bersama di dalam mobil SM*SH, dan
sepanjang jalan kami puas menatap wajah mereka. Hihihi.. Andai saja
itu terjadi.
Sebuah truk berada di depan berjalan lambat dan menghalangi laju
mobil kami. Mau tidak mau kami ikut mengurangi kecepatan dan
mengikuti truk itu dari belakang.
Setelah beberapa saat, supir kami mulai kehilangan kesabaran.
Kemudian dia berniat untuk menyalip truk itu. Dia mulai mengarahkan
kemudi ke arah kanan truk. Tapi entah benar, atau hanya perasaanku
saja. Aku merasa kami terlalu jauh mengarah ke kanan. Dalam beberapa
detik, aku menjadi benar – benar yakin, kami memang berada di jalur
yang salah. Terbukti setelah dari arah berlawanan terlihat sebuah bus
berada tepat di depan mobil kami, dan.. Brraaaaakkkkk…
Lalu semuanya menjadi gelap.
Mungkin tak setiap hari,,ku s’lalu kan bisa menemani..
Tapi tak perlu kau resah,,semua akan berakhir indah..
***
11 Januari 2012
Aku kembali menatap 2 foto yang berada di pangkuanku. Satu foto
adalah foto kami bersembilan. Aku menyapu wajah mereka satu per satu
dari arah kiri ke kanan.
“Syukurlah, kalian selamat.” Aku tersenyum.
Percaya padaku,,aku akan selalu menangkapmu kala kau jatuh..
Hilangkan semua bimbang, resah, gundah,,sampai lenyap semua
beban itu..
Kemudian jariku sampai pada wajah Pipi, yang berada paling ujung
di sebelah kanan. Aku mengusap gambar wajahnya.
“Pipi, semoga kau tenang di alam sana. Terimakasih kau sudah
baik padaku. Hutang Rp 80.000,- ku sudah aku serahkan kepada anak –
anak yatim piatu.” Aku mencium foto Pipi.
Kemudian aku beralih pada satu foto yang lain. Itu adalah foto
SM*SH lengkap yang aku dapat dari majalah pemberian ayahku. Aku
tersenyum lagi.
“Maafkan kami, jika menurut kalian kami fanatic. Tapi sungguh,
cinta kami tulus kepada kalian. Terimakasih, telah menjadi
penyemangatku selama ini. Terimakasih, kalian selalu tersenyum walau
sering dicaci. Terimakasih, kalian telah mengajarkan sebuah
persahabatan dalam perbedaan. Terimakasih, kalian telah mempertemukan
kami dari berbagai daerah, menyatu menjadi SMASHBLAST. Teruslah
berkarya untuk kami. Buktikan pada mereka yang membenci kalian. Cinta
kami SMASHBLAST, selalu mengiringi perjalanan kalian SM*SH. Yakinlah,
tidak akan ada yang mampu menggantikan kalian SM*SH, di hati kami
SMASHBLAST.”
Kebersamaan janganlah pernah usai..
Sedih atau senang,,say hello dan say goodbye..
Percaya padaku,,semua akan berlalu..
Genggam tanganku,,hapuslah air matamu..
Berhentilah manyun,,mukamu jadi culun..
Mandi atau belum,,berikan aku senyum..
Aku memeluk dua foto itu. Kemudian Mamas menuju ke arahku.
“Kita masuk yUuk, udah sore.” Ajak Mamas.
Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Mamas kemudian mendorong
kursi rodaku.
“SM*SH, walaupun aku kehilangan kedua pergelangan kakiku.
Semangatku tidak akan surut untuk terus mendukung kalian. Aku masih
jauh lebih beruntung karena masih memiliki nyawa dan mata ini untuk
menyaksikan kalian melalui layar mati.”
Lihatlah ke langit,,pelangi penuh warna..
Yakinlah hujan inikan reda..
Mari bernyanyi,,du dididi dadada..
Hilangkan resah dan duka..
Hapuslah air mata,,kita kan bahagia..
Pasti kita kembali tertawa..
Aku dan kamu,,kita akan bersama..
Bersama dalam tawa duka..
Pelajaran yang bisa diambil..
Turutilah orang tua kalian walaupun itu keterlaluan
menurut kita..