Kamis, 15 November 2012
Hari ini adalah
hari pertama aku berdagang. Iya, aku jualan baju-baju dan daster batik yang aku
ambil dari seorang teman. Jualannya di
mana Fat? Hmm.. Cara jualanku agak berbeda. Aku menjajakan daganganku dari
rumah ke rumah. Sasarannya tentu saja ibu-ibu rumah tangga. Sekitar dua puluh stel
baju yang aku bawa dalam tas, dan dua stel di tangan. Aku keluar dari rumah jam
delapan tepat, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Orang pertama
yang aku temui adalah seorang penjual sarapan dan anak perempuannya. Dia
kelihatan tertarik saat melihat motif dan warnanya. Si anak juga mendukung
dengan mengatakan itu cocok buat ibunya. Dia bilang akan membeli dua stel. Tapi sayang, dia
menawar separuh dari harga yang aku berikan. Jujur saja, aku hanya mengambil
keuntungan lima
ribu rupiah dari setiap stelnya. Jika dia menawar separuh harga, jangankan
dapat keuntungan, ganti modal pun tidak. Setelah sekian lama tawar menawar yang
sangat alot, akhirnya dia tetap menolak dan tetap menawar separuh harga. -,-
Ya sudahlah,
aku melanjutkan perjalanan. Lalu aku temui beberapa ibu dengan berbeda-beda
tipe. Ada yang
sudah menolak mentah-mentah tanpa melirik yang aku bawa, ada yang tertarik pada
satu model tapi kekecilan, ada juga yang minta model sementara aku tidak punya.
Yang paling parah, ada yang membiarkanku duduk di tanah sementara dia duduk
membuka-buka daganganku di kursi. Dan, tidak beli satupun. :’( *garuk-garuk
tanah*
Dengan pundak
yang sudah pegal, aku masih melanjutkan perjalanan. Salahku yang tidak memakai
tas ransel, tapi memakai koper yang hanya satu tali. Akibatnya, pundakku sakit
sebelah.
Aku datangi
rumah demi rumah dan menawarkan dengan senyum, walaupun semangatku sudah mulai
turun. Ya Allah, ternyata berat juga ini. L
Tapi tidak lama
kemudian aku sampai di sebuah rumah yang agak ramai. Ada keluarga yang anak-anaknya sedang
berkumpul rupanya. Ini dia yang aku cari, haha.. Di luar dugaanku, mereka
memersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kakiku
bisa selonjor. Dan di rumah itu, daganganku laku dua walaupun keuntunganku
tidak penuh. Tapi tidak apa-apa. Orang-orang mau melihat daganganku saja aku
sudah cukup senang, apalagi mereka mau membelinya, kebahagiaanku berlipat
tentunya.
Aku melanjutkan
perjalanan, kemudian bertemu dengan ibu-ibu yang sudah agak berumur. Saat dia
sedang melihat-lihat, anak laki-lakinya keluar dan bertanya, “Ibu mau baju
itu?”. Ibunya menjawab, “Tidak, ibu hanya lihat-lihat.” Kemudian anaknya masuk
lagi ke dalam rumah.
“Sebenarnya ibu
ingin membelikan baju ini untuk menantu ibu. Tapi mau nawar semurah apapun, ibu
tidak punya uang, jadi tetap tidak akan beli, Nak.” Kata ibu itu padaku.
“Lho, bukannya
tadi anak ibu menawarkan?” tanyaku.
“Ibu sudah
cukup merepotkannya dengan kebutuhan sehari-hari yang semua ditanggung dia dan
istrinya. Jadi jangan marah, ya kalau ibu tidak beli kali ini.” Katanya.
“Ah, ibu..
Tentu saja tidak apa-apa.” Aku tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.
Tentu saja aku
tidak marah. Prinsipku adalah, aku ingin orang-orang membeli daganganku dengan
ikhlas. Juga aku ingin tidak ada penyesalan di hati mereka, setelah aku
melangkah pergi. Melihat hubungan ibu dengan anaknya tadi, aku berpikir memang
seperti itulah seharusnya. Saling mengerti.. Haahh..
Lalu aku masuk
ke perumahan yang orang-orangnya lumayan berada menurutku, dan bertemu lagi
dengan sebuah keluarga. Kali ini tidak hanya memersilahkan masuk, tapi mereka
juga menyuguhiku minum. Alhamdulillah, aku nyaris menangis di situ. Rasanya
nikmat sekali minumannya. Seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Aku memang lupa membawa minuman
saat berangkat. *lap keringat*
Keluarga itu
memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Melihat mereka bercanda, aku merasa
seperti bagian dari keluarga itu. Menyenangkan sekali.. Walaupun aku tahu
mereka tidak berniat membeli daganganku, tapi mereka tetap menghargai
perjuanganku dengan melihat-lihat dan membuka daganganku. Ibunya bahkan
menawariku makan. Sayang, jam sepuluh masih terlalu pagi untuk makan siang.
Tapi coba kalau ibu itu memaksaku sedikit, aku tidak akan menolaknya. Haha..
Usai
mengucapkan terima kasih dan menyalami mereka, aku berjalan lagi. Kemudian
bertemu dengan sebuah keluarga yang lagi-lagi memersilahkanku masuk dan duduk
di kursi, bukan di tanah. Baju gamisku laku satu dibeli keluarga ini dengan
untung penuh, alhamdulillah.. Ibunya juga memesan dua model lagi dengan ukuran
dia, dan aku berjanji akan mencarikannya.
Blok-blok
berikutnya yang aku temui hanyalah rumah-rumah dengan pagar tinggi, yang
berpenghuni, tapi seperti tidak berpenghuni. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke
perumahan yang letaknya di seberang. Tapi baru saja melewati jembatan,
menyentuh gerbang perumahannya saja belum, tiba-tiba kepalaku pusing dan perut
mual. Aku duduk di pinggir jembatan dan berusaha mengumpulkan tenaga lagi. Tapi
rasanya aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, kasihan tubuhku juga
kalau terlalu dipaksa. Akhirnya aku naik angkot dan bermaksud untuk pulang.
Tapi di tengah perjalanan, temanku menyuruhku mampir ke rumahnya untuk
melihat-lihat daganganku. Tentu saja aku menurutinya.
Di rumah
temanku, aku minum dan makan dengan membabi buta. Mungkin aku pusing karena
kehausan dan kelaparan. Haha.. Untunglah ibunya sudah cukup mengenalku, yang
memang kalau datang suka menghabiskan
makanannya. Iya, aku memang makannya banyak. Terima kasih Mba Umi dan ibunya, :)
mereka juga membeli satu dasterku.
Karena tenagaku
penuh lagi, aku pulang dengan berjalan kaki. Sambil menawarkan lagi di
sepanjang jalan pulang yang aku lewati. Tapi ternyata jalanan sepi, mungkin
karena hari sudah siang jadi banyak yang istirahat..
Begitu memasuki
jalan ke rumahku, betis rasanya sudah sebesar kaki gajah. Yang aku pikirkan
sekarang hanya satu, sampai rumah dan, tiduuurrr... Tapi apa setelah masuk rumah? Tidak ada yang menegurku. Eh,
ada sih. Kucingku menyambut kepulanganku, karena lapar..
Tidak ada orang yang
menanyaiku darimana, padahal aku membawa koper sebesar itu. Dan, aku melihat
kakak pertamaku sedang bermain PS dengan teman-temannya di rumah depan. Mereka
tertawa-tawa. Entah kenapa aku sakit hati melihatnya. Seharian aku
panas-panasan, promo sana-sini, sedangkan dia.. Tapi ah, sudahlah. Justru
karena ini aku merasa lebih kuat menghadapi hidup ini daripada dia. Aku lebih
mandiri tanpa minta uang jajan lagi pada orang tua, kecuali uang kuliah tentu
saja.
Ya sudah,
selamat tidur.. :)
*dadah dadah* *pasang koyo di kaki*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar