Selasa, 20 November 2012

Susahnya mencari Rp 1000,00



Kamis, 15 November 2012

Hari ini adalah hari pertama aku berdagang. Iya, aku jualan baju-baju dan daster batik yang aku ambil dari seorang teman. Jualannya di mana Fat? Hmm.. Cara jualanku agak berbeda. Aku menjajakan daganganku dari rumah ke rumah. Sasarannya tentu saja ibu-ibu rumah tangga. Sekitar dua puluh stel baju yang aku bawa dalam tas, dan dua stel di tangan. Aku keluar dari rumah jam delapan tepat, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Orang pertama yang aku temui adalah seorang penjual sarapan dan anak perempuannya. Dia kelihatan tertarik saat melihat motif dan warnanya. Si anak juga mendukung dengan mengatakan itu cocok buat ibunya. Dia bilang  akan membeli dua stel. Tapi sayang, dia menawar separuh dari harga yang aku berikan. Jujur saja, aku hanya mengambil keuntungan lima ribu rupiah dari setiap stelnya. Jika dia menawar separuh harga, jangankan dapat keuntungan, ganti modal pun tidak. Setelah sekian lama tawar menawar yang sangat alot, akhirnya dia tetap menolak dan tetap menawar separuh harga. -,-
Ya sudahlah, aku melanjutkan perjalanan. Lalu aku temui beberapa ibu dengan berbeda-beda tipe. Ada yang sudah menolak mentah-mentah tanpa melirik yang aku bawa, ada yang tertarik pada satu model tapi kekecilan, ada juga yang minta model sementara aku tidak punya. Yang paling parah, ada yang membiarkanku duduk di tanah sementara dia duduk membuka-buka daganganku di kursi. Dan, tidak beli satupun. :’( *garuk-garuk tanah*
Dengan pundak yang sudah pegal, aku masih melanjutkan perjalanan. Salahku yang tidak memakai tas ransel, tapi memakai koper yang hanya satu tali. Akibatnya, pundakku sakit sebelah.
Aku datangi rumah demi rumah dan menawarkan dengan senyum, walaupun semangatku sudah mulai turun. Ya Allah, ternyata berat juga ini. L
Tapi tidak lama kemudian aku sampai di sebuah rumah yang agak ramai. Ada keluarga yang anak-anaknya sedang berkumpul rupanya. Ini dia yang aku cari, haha.. Di luar dugaanku, mereka memersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kakiku bisa selonjor. Dan di rumah itu, daganganku laku dua walaupun keuntunganku tidak penuh. Tapi tidak apa-apa. Orang-orang mau melihat daganganku saja aku sudah cukup senang, apalagi mereka mau membelinya, kebahagiaanku berlipat tentunya.
Aku melanjutkan perjalanan, kemudian bertemu dengan ibu-ibu yang sudah agak berumur. Saat dia sedang melihat-lihat, anak laki-lakinya keluar dan bertanya, “Ibu mau baju itu?”. Ibunya menjawab, “Tidak, ibu hanya lihat-lihat.” Kemudian anaknya masuk lagi ke dalam rumah.
“Sebenarnya ibu ingin membelikan baju ini untuk menantu ibu. Tapi mau nawar semurah apapun, ibu tidak punya uang, jadi tetap tidak akan beli, Nak.” Kata ibu itu padaku.
“Lho, bukannya tadi anak ibu menawarkan?” tanyaku.
“Ibu sudah cukup merepotkannya dengan kebutuhan sehari-hari yang semua ditanggung dia dan istrinya. Jadi jangan marah, ya kalau ibu tidak beli kali ini.” Katanya.
“Ah, ibu.. Tentu saja tidak apa-apa.” Aku tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.
Tentu saja aku tidak marah. Prinsipku adalah, aku ingin orang-orang membeli daganganku dengan ikhlas. Juga aku ingin tidak ada penyesalan di hati mereka, setelah aku melangkah pergi. Melihat hubungan ibu dengan anaknya tadi, aku berpikir memang seperti itulah seharusnya. Saling mengerti.. Haahh..
Lalu aku masuk ke perumahan yang orang-orangnya lumayan berada menurutku, dan bertemu lagi dengan sebuah keluarga. Kali ini tidak hanya memersilahkan masuk, tapi mereka juga menyuguhiku minum. Alhamdulillah, aku nyaris menangis di situ. Rasanya nikmat sekali minumannya. Seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Aku memang lupa membawa minuman saat berangkat. *lap keringat*
Keluarga itu memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Melihat mereka bercanda, aku merasa seperti bagian dari keluarga itu. Menyenangkan sekali.. Walaupun aku tahu mereka tidak berniat membeli daganganku, tapi mereka tetap menghargai perjuanganku dengan melihat-lihat dan membuka daganganku. Ibunya bahkan menawariku makan. Sayang, jam sepuluh masih terlalu pagi untuk makan siang. Tapi coba kalau ibu itu memaksaku sedikit, aku tidak akan menolaknya. Haha..
Usai mengucapkan terima kasih dan menyalami mereka, aku berjalan lagi. Kemudian bertemu dengan sebuah keluarga yang lagi-lagi memersilahkanku masuk dan duduk di kursi, bukan di tanah. Baju gamisku laku satu dibeli keluarga ini dengan untung penuh, alhamdulillah.. Ibunya juga memesan dua model lagi dengan ukuran dia, dan aku berjanji akan mencarikannya.
Blok-blok berikutnya yang aku temui hanyalah rumah-rumah dengan pagar tinggi, yang berpenghuni, tapi seperti tidak berpenghuni. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke perumahan yang letaknya di seberang. Tapi baru saja melewati jembatan, menyentuh gerbang perumahannya saja belum, tiba-tiba kepalaku pusing dan perut mual. Aku duduk di pinggir jembatan dan berusaha mengumpulkan tenaga lagi. Tapi rasanya aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, kasihan tubuhku juga kalau terlalu dipaksa. Akhirnya aku naik angkot dan bermaksud untuk pulang. Tapi di tengah perjalanan, temanku menyuruhku mampir ke rumahnya untuk melihat-lihat daganganku. Tentu saja aku menurutinya.
Di rumah temanku, aku minum dan makan dengan membabi buta. Mungkin aku pusing karena kehausan dan kelaparan. Haha.. Untunglah ibunya sudah cukup mengenalku, yang memang kalau datang suka  menghabiskan makanannya. Iya, aku memang makannya banyak. Terima kasih Mba Umi dan ibunya, :) mereka juga membeli satu dasterku.
Karena tenagaku penuh lagi, aku pulang dengan berjalan kaki. Sambil menawarkan lagi di sepanjang jalan pulang yang aku lewati. Tapi ternyata jalanan sepi, mungkin karena hari sudah siang jadi banyak yang istirahat.. 
Begitu memasuki jalan ke rumahku, betis rasanya sudah sebesar kaki gajah. Yang aku pikirkan sekarang hanya satu, sampai rumah dan, tiduuurrr... Tapi apa setelah  masuk rumah? Tidak ada yang menegurku. Eh, ada sih. Kucingku menyambut kepulanganku, karena lapar..
Tidak ada orang yang menanyaiku darimana, padahal aku membawa koper sebesar itu. Dan, aku melihat kakak pertamaku sedang bermain PS dengan teman-temannya di rumah depan. Mereka tertawa-tawa. Entah kenapa aku sakit hati melihatnya. Seharian aku panas-panasan, promo sana-sini, sedangkan dia.. Tapi ah, sudahlah. Justru karena ini aku merasa lebih kuat menghadapi hidup ini daripada dia. Aku lebih mandiri tanpa minta uang jajan lagi pada orang tua, kecuali uang kuliah tentu saja.
Ya sudah, selamat tidur.. :) *dadah dadah* *pasang koyo di kaki*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar