SM*SH,,SEMOGA KALIAN MEMBACA INI..
11 Januari 2012
Indah sekali langit hari ini. Biru seluruhnya dengan bercak awan putih, tanpa mendung sedikit pun. Lampu raksasa bersinar angkuh dan menyilau sinis kepadaku yang terduduk di teduhnya rumahku sambil menatap 2 foto yang semenjak tadi ada di genggamanku..
“San, ayo masuk. Di luar panas sekali.” Suara ibu memecah lamunanku.
“Sebentar lagi, Bu. Suasananya nyaman sekali di sini.” Ucapku.
Lalu ibu kembali masuk ke dalam rumah. Ya, suasana seperti ini, persis seperti hari itu.
***
Hapuslah air matamu,,kini ku hanya datang untukmu..
Memang hidup kadang susah,,bikin gelisah..
5 Januari 2012
Sepanjang jalan menuju rumah, aku berjalan dengan sedikit langkah melompat. Langit cerah semakin menambah kegiranganku, setelah seharian menyerap ilmu yang padahal tidak sepenuhnya dapat ku serap. Dari dalam saku seragamku, aku mengambil secarik kertas. Aku tersenyum menatap kertas itu sejenak, lalu mengembalikannya lagi di tempat ternyaman, di saku seragamku. Tidak mudah sampai aku bisa mendapatkan tiket ini, aku tidak ingin menghilangkannya.
Kegiranganku semakin bertambah mendapati motor ayahku terparkir di halaman rumahku. Karena itu menandakan ayahku telah pulang dari mengajar.
“Assalamu’alaikum.” Salamku begitu melewati pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Suara ayah dan ibuku dari arah meja makan.
Mendadak suasana di dalam rumah begitu mencekam bagiku. Dengan langkah perlahan, aku menuju kursi di sebelah ayah. Ibu masih menyiapkan makan siang untuk kami. Lama aku menatap wajah ayah, apakah perasaan ayah sedang baik hari ini? Tak lama, Mamas, kakakku keluar dari kamarnya. Setelah mencuci tanganku, berempat kami menyantap masakan yang sudah ibu siapkan.
Sementara kami makan, aku hanya bias terdiam. Aku terus berpikir, bagaimana mengatakan ini pada mereka. Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakan ini?
“Ayah, ibu.. Sani mau ngomong.” Ucapku setelah ku lihat semua piring telah kosong.
“Ngomong apa, San?” Tanya ayah bijaksana.
“Ayah punya uang Rp 80.000,- ga?” aku memberanikan diri untuk menanyakan ini.
“Memang buat apa?” Tanya ayah lagi.
“Buat bayar sewa mobil, Yah.” Suaraku sedikit bergetar.
“Mobil? Maksudnya?” ayah menatapku lekat – lekat.
“Hari Sabtu besok, Sani sama temen – temen mau ke Semarang, Yah. Rencananya kita mau nyewa mobil.” Sampai di sini tanganku ikut bergetar.
“Lho, mau ngapain ke Semarang?" Ayah nampak kaget mendengarnya.
Aku menarik napas panjang, kemudian menundukkan kepalaku.
“Sani mau nonton konsernya SM*SH, Yah.” Ujarku lirih sambil tetap menunduk.
“Jangan boleh, Yah.” Kali ini ibu yang bersuara.
Aku mendongak menatap ibu, kemudian beralih menatap ayah.
“Nanti yang nyetir siapa?” Tanya ayah.
“Tetangganya temen Sani, Yah. Dia juga yang punya mobil.” Jawabku semangat. Sepertinya ada harapan aku akan diijinkan.
“Ayah, jangan boleh.” Ibu kembali mendesak ayah.
“Tapi Sani udah beli tiketnya, Bu. Sani beli pake uang Sani sendiri kok." Kataku sambil mengambil tiket yang ada di saku seragamku.
“Semarang itu jauh, Sani.” Ucap ayah setelah terdiam beberapa saat.
“yAah, Ayah.. Cuma Rp 80.000,- kok.” Aku masih membujuk ayah.
“Ini bukan masalah uangnya. Kalau konsernya di Tegal boleh, pasti ayah mengijinkan. Sani ga tau kan daerah Semarang? Sani belum tau kan di mana tempatnya.? Nanti kalau nyasar gimana? Kalaupun ketemu, Sani belum tentu kan bias ngobrol sama SM*SH nya langsung, atau foto bareng? Apa nanti ga kecewa?” ayah mencoba memberiku pengertian.
“Tapi Sani ke sananya rame – rame, Yah. Kapan lagi coba SM*SH ke Jawa Tengah? Kemarin waktu M&G SM*SH di Pekalongan, Sani udah berbesar hati ga nonton karna tiketnya mahal. Sekarang Sani ga perlu ke Karawang atau Jakarta, ini di Semarang, Yah. Atau kalo ayah khawatir, biar Mamas nemenin Sani ke sana ya?” aku menoleh pada Mamas.
“Ga, Ahh.. Mamas mau ngurusin skripsi biar cepet selesai.” Jawaban Mamas membuatku kecewa.
“Boleh ya, Yah. Sani pengen bnget liat SM*SH secara langsung.” Aku kembali menatap ayah.
“Ga boleh. Nanti ayah belikan aja semua majalah yang ada berita SM*SH nya. Kalau perlu, sama kaset dan CD aslinya SM*SH juga.” Setelah berkata begitu, ayah mengambil Koran dan membacanya. Dan itu menandakan keputusan ayah sudah tidak dapat lagi dirubah.
Kemudian aku berlari menuju kamarku dan mengunci pintunya. Tidak ku pedulikan piring kotor yang masih menumpuk, yang seharusnya menjadi tugasku untuk mencucinya. Aku membenamkan wajahku di atas bantal, aku menangis. Aku sungguh kecewa, aku merasa ayah tidak menyayangiku.
Genggamlah tanganku,,aku akan selalu mendukungmu setiap waktu..
Curahkan semua kesal, amarah, lelah,,sampai hilang semua beban itu..
***
6 Januari 2012
“Gimana, San? Hari ini uangnya harus udah kumpul lho.” Kata temanku Pipi saat jam istirahat.
“Aku ga ikut, Pi. Aku ga dibolehin sama ayah.” Jawabku lemah.
“Kamu kan udah beli tiketnya, San. Apa ga sayang?” Tanya Pipi lagi.
“Mau gimana lagi, aku ga punya uang.” Sekuat tenaga aku menahan tangis.
“Mau aku pinjemin uang dulu? Boleh dech, nanti bayarnya nyicil.” Kata Pipi.
“Beneran, Pi?” tanyaku dengan mata berbinar.
“Iya.” Jawab Pipi sambil tersenyum.
“Makasih banget, Pi.” Aku memeluknya.
Jangan hiraukan,,mereka yang benci..
Menghina penuh iri,,dan melukai hati..
Mungkin mereka ingin sepertimu,,tapi ternyata tak mampu..
***
7 Januari 2012
Saat tiba di rumah Pipi, semua teman – temanku sudah berkumpul di sana. Setelah mengganti seragamku, aku bergegas keluar menyusul teman – temanku. Kami bersembilan sempat berfoto bersama sebelum masuk ke dalam mobil. Pipi duduk di sebelah supir, sedangkan aku duduk di belakang
Semuanya terlihat gembira, tidak terkecuali aku. Akhirnya, sebentar lagi aku akan bertemu SM*SH secara langsung. Bila mungkin, aku juga ingin menyentuh mereka.
Mobil yang kami tumpangi berbelok ke arah kiri. Kemudian bergabung dengan kendaraan lainnya yang melintas di jalur Pantura. Apa mungkin SM*SH juga melewati jalan ini ya? Aku membayangkan bila mobil SM*SH berada tepat di depan mobil kami. Kami akan mengejar dan menghentikannya. Lalu kami ikut bersama di dalam mobil SM*SH, dan sepanjang jalan kami puas menatap wajah mereka. Hihihi.. Andai saja itu terjadi.
Sebuah truk berada di depan berjalan lambat dan menghalangi laju mobil kami. Mau tidak mau kami ikut mengurangi kecepatan dan mengikuti truk itu dari belakang.
Setelah beberapa saat, supir kami mulai kehilangan kesabaran. Kemudian dia berniat untuk menyalip truk itu. Dia mulai mengarahkan kemudi ke arah kanan truk. Tapi entah benar, atau hanya perasaanku saja. Aku merasa kami terlalu jauh mengarah ke kanan. Dalam beberapa detik, aku menjadi benar – benar yakin, kami memang berada di jalur yang salah. Terbukti setelah dari arah berlawanan terlihat sebuah bus berada tepat di depan mobil kami, dan.. Brraaaaakkkkk…
Lalu semuanya menjadi gelap.
Mungkin tak setiap hari,,ku s’lalu kan bisa menemani..
Tapi tak perlu kau resah,,semua akan berakhir indah..
***
11 Januari 2012
Aku kembali menatap 2 foto yang berada di pangkuanku. Satu foto adalah foto kami bersembilan. Aku menyapu wajah mereka satu per satu dari arah kiri ke kanan.
“Syukurlah, kalian selamat.” Aku tersenyum.
Percaya padaku,,aku akan selalu menangkapmu kala kau jatuh..
Hilangkan semua bimbang, resah, gundah,,sampai lenyap semua beban itu..
Kemudian jariku sampai pada wajah Pipi, yang berada paling ujung di sebelah kanan. Aku mengusap gambar wajahnya.
“Pipi, semoga kau tenang di alam sana. Terimakasih kau sudah baik padaku. Hutang Rp 80.000,- ku sudah aku serahkan kepada anak – anak yatim piatu.” Aku mencium foto Pipi.
Kemudian aku beralih pada satu foto yang lain. Itu adalah foto SM*SH lengkap yang aku dapat dari majalah pemberian ayahku. Aku tersenyum lagi.
“Maafkan kami, jika menurut kalian kami fanatic. Tapi sungguh, cinta kami tulus kepada kalian. Terimakasih, telah menjadi penyemangatku selama ini. Terimakasih, kalian selalu tersenyum walau sering dicaci. Terimakasih, kalian telah mengajarkan sebuah persahabatan dalam perbedaan. Terimakasih, kalian telah mempertemukan kami dari berbagai daerah, menyatu menjadi SMASHBLAST. Teruslah berkarya untuk kami. Buktikan pada mereka yang membenci kalian. Cinta kami SMASHBLAST, selalu mengiringi perjalanan kalian SM*SH. Yakinlah, tidak akan ada yang mampu menggantikan kalian SM*SH, di hati kami SMASHBLAST.”
Kebersamaan janganlah pernah usai..
Sedih atau senang,,say hello dan say goodbye..
Percaya padaku,,semua akan berlalu..
Genggam tanganku,,hapuslah air matamu..
Berhentilah manyun,,mukamu jadi culun..
Mandi atau belum,,berikan aku senyum..
Aku memeluk dua foto itu. Kemudian Mamas menuju ke arahku.
“Kita masuk yUuk, udah sore.” Ajak Mamas.
Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Mamas kemudian mendorong kursi rodaku.
“SM*SH, walaupun aku kehilangan kedua pergelangan kakiku. Semangatku tidak akan surut untuk terus mendukung kalian. Aku masih jauh lebih beruntung karena masih memiliki nyawa dan mata ini untuk menyaksikan kalian melalui layar mati.”
Lihatlah ke langit,,pelangi penuh warna..
Yakinlah hujan inikan reda..
Mari bernyanyi,,du dididi dadada..
Hilangkan resah dan duka..
Hapuslah air mata,,kita kan bahagia..
Pasti kita kembali tertawa..
Aku dan kamu,,kita akan bersama..
Bersama dalam tawa duka..
Pelajaran yang bisa diambil..
Turutilah orang tua kalian walaupun itu keterlaluan menurut kita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar