Jumat, 23 November 2012

Aku Pasti Sembuh..



Rabu, 21 November 2012

Hari ini ada pertemuan guru-guru se-kecamatan di sekolahku. Acara hiburannya bukan demo masak seperti biasanya, tetapi diisi dengan pemeriksaan darah gratis dari Kesehatan. Karena jumlah tamu yang datang sampai ratusan orang, aku dan kelima temanku harus mengalah dan memersilahkan yang sepuh-sepuh untuk diperiksa lebih dulu. Lagipula kami harus menyambut tamu dan membantu menyiapkan konsumsi.
Setelah acara selesai, barulah kami bisa mendapat kesempatan untuk pemeriksaan darah. Sekolah sudah sepi, dan di ruangan itu hanya ada kami berlima dan dua orang dari Kesehatan. Karena temanku tidak ada yang bersedia diperiksa lebih dulu, maka akulah yang mendapat giliran pertama.
Awalnya jari tengah tangan kananku ditusuk menggunakan alat yang mirip tembakan. Sedikit dari darahku kemudian dioleskan di atas kaca kecil dan dilihat melalui mikroskop. Hasilnya bisa kulihat melalui layar televisi yang sudah disediakan. Petugasnya seperti sedang memeriksa sesuatu, mengamati gambar yang tidak aku tahu apa artinya. Hanya terlihat seperti gumpalan-gumpalan menurutku.
Petugas itu lalu bertanya padaku, “Apa anda sedang menstruasi?”
“Tidak.” Jawabku. Agak canggung juga karena pertanyaan yang pertama keluar seperti itu.
“Apa anda sering keputihan?” tanyanya lagi.
“Ehm, iya.” Di sini perasaanku mulai tidak enak.
“Seberapa sering?” dia masih bertanya.
“Biasanya setiap setelah menstruasi.” Jawabku.
“Coba anda perhatikan daerah ini.” Dia lalu menunjuk satu bagian pada layar televisi. Aku melihat di antara gumpalan-gumpalan tadi, ada satu bagian yang gumpalannya menempel dan berwarna hitam. Agak lebar, tapi tadi tidak terlihat olehku.
“Apa artinya itu?” tanyaku.
“Anda harus mulai menjaga kesehatan anda. Di sini terlihat tanda-tanda adanya kanker.”
Jeddeeerrr!! Aku kaget bukan main. Penyakit yang selama ini aku harap tidak akan pernah diidap aku dan keluargaku, kini terlihat di dalam tubuhku?
“Tapi tenang saja, baru tanda-tanda kok. Masih bisa hilang. Asal anda mengkonsumsi makanan yang sehat dan menghindari makanan berpengawet.” Dia seperti dapat mengerti ketakutanku.
Pikiranku sedang mengingat, memangnya selama ini apa yang aku makan sampai penyakit ini mendekatiku?
“Juga kurangi memakai celana jeans, kalau bisa jangan pakai celana jeans lagi.” Dia melanjutkan.
Ah, aku memang jarang memakai celana jeans. Bahkan sudah lama selalu pakai rok.
“Benar-benar bisa hilang kan? Makanan apa yang bisa menghilangkannya?” akhirnya aku bisa berucap.
 “Mudah saja, cukup dengan buah-buahan berwarna cerah dan sayur-sayuran. Juga jangan sembarangan memakai pembersih daerah kewanitaan yang PHnya terlalu tinggi.” Jawabnya.
Aku hanya menarik nafas panjang. Tanpa menjawab lagi, aku berpindah tempat duduk ke bagian konsultasi. Lalu petugas konsultasi itu memberiku saran makanan yang harus banyak kukonsumsi dan yang harus dihindari. Tapi pikiranku sudah agak berantakan, hanya sedikit dari perkataannya yang bisa kuingat. Yang masih kuingat hanya perkataan terakhirnya sebelum aku meninggalkan ruangan itu.
“Tapi anda tidak perlu takut. Jika anda takut, itu justru akan semakin memerparah keadaan.”
Haahh.. Bagaimana mungkin aku tidak takut? Aku takut menyusahkan keluargaku, itu saja. Aku harap teman-temanku yang mendengarnya tidak memberitahukan pada ibuku. Bagaimanapun, tentu ini akan membuat beliau kepikiran. Ah, aku tidak mau beliau sakit lagi.
Sampai di rumah, aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku harap ini hanya mimpi, tapi kenyataannya bukan. Teringat cerita dari banyak orang dan bacaan, bagaimana kanker itu. Bagaimana penderitanya harus mengkonsumsi obat, tidak enak badan, menjalani kemoterapi, lalu rambut mulai rontok. Ah, itu sangat mengerikan. :’(
Aku pandangi cincin pertunanganku. Bagaimana jika aku menjadi beban suamiku kelak? Bagaimana jika aku harus selalu menjalani perawatan? Siapa yang akan mengurus suamiku? Lalu bagaimana anakku? Siapa yang akan memasak dan mengantar ke sekolah? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biayaku berobat? Apa masih bisa menabung untuk beli rumah?
Ya Allah, kenapa harus aku? Dari sekian ratus orang yang diperiksa, kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain? Aku takut menyusahkan keluargaku..
Setelah beberapa saat, aku bangun dan duduk. Aku tidak bisa terus meratapi nasib seperti ini. Aku percaya kekuatan pikiran. Aku harus berpikir ini bisa hilang. Aku pasti akan sembuh asal menjaga kesehatan. Aku tidak akan memakai celana jeans lagi. Tidak akan makan makanan yang tidak sehat lagi, aku akan menjaga kesehatan. Aku akan banyak mengkonsumsi buah sirsak. Aku tahu Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan makhluknya. Aku bangkit dan mengadu kepadaNya.
Aku pasti sembuh! Aku ingin menjalani hidup seperti orang lain. Aku ingin menikah. Aku ingin merasakan ada yang menendang-nendang di dalam perutku. Aku ingin merasakan rasanya menyusui bayi, lalu suamiku duduk di sampingku. Aku ingin mendengar saat anakku bisa mengucapkan kata “Ibu, ayah”. Aku ingin mengantarnya di hari pertama masuk sekolah. Aku ingin mengajarinya mengerjakan PR. Aku ingin melerai anak-anakku saat berkelahi dengan saudaranya. Aku ingin merasakan memarahi anakku saat dia masuk ke rumah tanpa melepas sepatunya. Aku ingin melihat suami dan anakku makan masakanku dengan lahap. Aku ingin merasakan mengurus suamiku, mencuci dan menyetrika bajunya. Aku ingin merasakan rasanya punya cucu. Aku ingin merasakan duduk bersama suamiku di saat senja, saat semua anakku sudah berkeluarga dan mandiri. Saat di mana kami sudah sama-sama keriput dan beruban.
Astaghfirullah hal adzim.. Aku ingin merasakan itu semua. Dan aku yakin aku dapat merasakan itu. Sembuhkan aku ya Allah.. Hilangkan ini dari dalam tubuhku.. Aku tidak ingin menyusahkan keluargaku. Aamiin.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar