Di kotaku, langsir
adalah sebutan untuk kereta api pengangkut bahan bakar minyak. Kereta ini
paling dihindari oleh warga di kotaku, terutama aku sendiri. Kenapa? Karena langsir
identik dengan macet. Ada sebuah jalanan kecil yang dilewati langsir setiap
harinya, yang walaupun kecil, namun ramai dilintasi banyak kendaraan. Jalan ini
menghubungkan kota dengan kabupaten walau secara tidak langsung.
Pada jam-jam tertentu,
kereta ini akan keluar atau masuk dari sebuah perusahaan pengolah BBM yang
beroperasi di jalan itu. Keluar masuknya tidak hanya sekedar palang kereta
ditutup, lalu kereta keluar atau masuk, kemudian selesai, dan palang dibuka.
Tetapi langsir ini harus maju mundur sekian kali dulu baru kemudian palang
dibuka. Namanya kereta pasti panjang, kan, ya? Jadi saat langsir diparkir di tempat ini, mungkin
istilahnya gerbongnya ‘dipotong-potong’ begitu.
Misalnya saat langsir
akan masuk, maka sekian gerbong masuk dulu, setelah itu sambungan dilepas,
gerbong sisanya maju lagi, lalu langsir pindah jalur, mundur lagi, beberapa
gerbong dilepas lagi, maju dan pindah jalur lagi, begitu seterusnya. Pernah aku
menghitung sejak palang kereta ditutup sampai dibuka, lamanya setengah jam
kurang sedikit. Belum lagi setelah itu harus berdesak-desakkan saat melintasi
rel kereta. Karena proses lewatnya langsir ini tidak sebentar, sementara saat
itu adalah jam pulang kerja, bisa dibayangkan berapa panjang macetnya.
Karena sudah cukup hapal
jadwal lewatnya langsir, jadi sebisa mungkin aku menghindari lewat jalan ini
jika sekiranya bersamaan datangnya si langsir. Tapi namanya manusia hanya punya
rencana, sementara Allah-lah Yang Punya Kuasa. Kadang mau tidak mau harus tetap
bertemu si langsir, karena memang jalan inilah yang menjadi penghubung terdekat
antara tempat tujuan dan tempat tinggalku.
Lalu apa tujuan aku
menulis judul ini? Tidak ada. Haha.. Aku hanya sedang ‘uring-uringan’, karena
tempat-streaming-film-Korea-favorit-ku
tiba-tiba gulung tikar begitu saja. Baiklah, ini tidak ada hubungannya.
Tapi jika dilihat dari
sisi baiknya, langsir ini dapat melatih kesabaran. Bagaimana tidak, sekali
lewat saja selama itu. Dan seberapa lamapun palang kereta ditutup, toh nantinya akan dibuka juga. Tidak
mungkin palang itu tertutup selamanya. Dan lagi, saat berhenti itu, aku dapat
melihat orang-orang di sekitar. Ada orang tua yang kewalahan menjawab anaknya
yang bertanya ini itu mengenai langsir, ada yang kesal karena mungkin sedang
buru-buru, ada remaja pria yang menggoda remaja lawan jenisnya, tapi ada juga
yang tetap menikmati suasana karena bersama orang terkasih. Yang terakhir itu
yang bikin nyesek. IYA, AKU LDR-AN! ADA MASALAH??? Ehmm, ehmm.. *mengendalikan
perasaan*
Palang keretanya pun tidak terlihat.
Tapi sebetulnya ada hikmah yang dapat aku ambil dari si langsir
ini. Yaitu selama apapun masalah yang kita hadapi, akan ada saatnya masalah itu
selesai dan kita dapat melewatinya. Dan seberat apapun rintangan hidup yang
harus kita tempuh, akan ada saatnya kita dapat melewati itu semua dan menemui
jalan yang lebih lancar dan mudah. Betul tidak, ya? Ah, semoga betul.
Baiklah, ambillah yang
baik-baik saja dari tulisan ini, itupun jika ada. Dan jangan ragu untuk meuliskan
di kolom komentar, semua yang buruk yang mungkin tidak sengaja tersirat di
dalam tulisan ini pula. Karena akan lebih baik ditegur kalian melalui komentar
di dunia, dibandingkan ditegur Sang Pemilik Teguran Tertinggi di Yaumul Akhir
nanti. Dadaah... *lambaikan tangan* *lanjut berangkat TPA*
#PeopleAroundUs
#Day10
#PeopleAroundUs
#Day10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar