Jumat, 20 September 2013

Langsir Pasti Berlalu





Di kotaku, langsir adalah sebutan untuk kereta api pengangkut bahan bakar minyak. Kereta ini paling dihindari oleh warga di kotaku, terutama aku sendiri. Kenapa? Karena langsir identik dengan macet. Ada sebuah jalanan kecil yang dilewati langsir setiap harinya, yang walaupun kecil, namun ramai dilintasi banyak kendaraan. Jalan ini menghubungkan kota dengan kabupaten walau secara tidak langsung.

Pada jam-jam tertentu, kereta ini akan keluar atau masuk dari sebuah perusahaan pengolah BBM yang beroperasi di jalan itu. Keluar masuknya tidak hanya sekedar palang kereta ditutup, lalu kereta keluar atau masuk, kemudian selesai, dan palang dibuka. Tetapi langsir ini harus maju mundur sekian kali dulu baru kemudian palang dibuka. Namanya kereta pasti panjang, kan, ya? Jadi  saat langsir diparkir di tempat ini, mungkin istilahnya gerbongnya ‘dipotong-potong’ begitu.

Misalnya saat langsir akan masuk, maka sekian gerbong masuk dulu, setelah itu sambungan dilepas, gerbong sisanya maju lagi, lalu langsir pindah jalur, mundur lagi, beberapa gerbong dilepas lagi, maju dan pindah jalur lagi, begitu seterusnya. Pernah aku menghitung sejak palang kereta ditutup sampai dibuka, lamanya setengah jam kurang sedikit. Belum lagi setelah itu harus berdesak-desakkan saat melintasi rel kereta. Karena proses lewatnya langsir ini tidak sebentar, sementara saat itu adalah jam pulang kerja, bisa dibayangkan berapa panjang macetnya.

Karena sudah cukup hapal jadwal lewatnya langsir, jadi sebisa mungkin aku menghindari lewat jalan ini jika sekiranya bersamaan datangnya si langsir. Tapi namanya manusia hanya punya rencana, sementara Allah-lah Yang Punya Kuasa. Kadang mau tidak mau harus tetap bertemu si langsir, karena memang jalan inilah yang menjadi penghubung terdekat antara tempat tujuan dan tempat tinggalku.

Lalu apa tujuan aku menulis judul ini? Tidak ada. Haha.. Aku hanya sedang ‘uring-uringan’, karena tempat-streaming-film-Korea-favorit-ku tiba-tiba gulung tikar begitu saja. Baiklah, ini tidak ada hubungannya.

Tapi jika dilihat dari sisi baiknya, langsir ini dapat melatih kesabaran. Bagaimana tidak, sekali lewat saja selama itu. Dan seberapa lamapun palang kereta ditutup, toh nantinya akan dibuka juga. Tidak mungkin palang itu tertutup selamanya. Dan lagi, saat berhenti itu, aku dapat melihat orang-orang di sekitar. Ada orang tua yang kewalahan menjawab anaknya yang bertanya ini itu mengenai langsir, ada yang kesal karena mungkin sedang buru-buru, ada remaja pria yang menggoda remaja lawan jenisnya, tapi ada juga yang tetap menikmati suasana karena bersama orang terkasih. Yang terakhir itu yang bikin nyesek. IYA, AKU LDR-AN! ADA MASALAH??? Ehmm, ehmm.. *mengendalikan perasaan*


 Palang keretanya pun tidak terlihat.

Tapi sebetulnya ada  hikmah yang dapat aku ambil dari si langsir ini. Yaitu selama apapun masalah yang kita hadapi, akan ada saatnya masalah itu selesai dan kita dapat melewatinya. Dan seberat apapun rintangan hidup yang harus kita tempuh, akan ada saatnya kita dapat melewati itu semua dan menemui jalan yang lebih lancar dan mudah. Betul tidak, ya? Ah, semoga betul.

Baiklah, ambillah yang baik-baik saja dari tulisan ini, itupun jika ada. Dan jangan ragu untuk meuliskan di kolom komentar, semua yang buruk yang mungkin tidak sengaja tersirat di dalam tulisan ini pula. Karena akan lebih baik ditegur kalian melalui komentar di dunia, dibandingkan ditegur Sang Pemilik Teguran Tertinggi di Yaumul Akhir nanti. Dadaah... *lambaikan tangan* *lanjut berangkat TPA*


#PeopleAroundUs

#Day10


Tidak ada komentar:

Posting Komentar