#CeritaDariKamar Hari ke-30
Saat akan mendapatkan
satu kebahagiaan baru, haruskah kita
kehilangan kebahagiaan lain yang sebelumnya telah kita miliki? Rencana sudah
matang, bahwa jika Allah mengijinkan, aku akan menikah dua bulan lagi. Tentu
itu adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Tapi kemudian kenyataan
memaksaku untuk melepaskan sesuatu yang selama ini telah memberikan kebahagiaan
untukku.
#CeritaDariKamarku bukanlah mengenai benda,
tapi mengenai tiga makhluk yang sudah tiga tahun ini menemaniku. Entah perlu
diketahui atau tidak, aku terlahir bukan dari keluarga yang hangat. Jadi saat
mereka hadir dalam hidupku, sebagian kekosongan ini telah terpenuhi, di mana
sebagian lagi telah dipenuhi oleh @nurizalfariz sebelumnya.
Mereka mengantar sampai
pintu, saat aku hendak meninggalkan rumah. Memaksaku menghentikan langkah
sejenak untuk sekedar membelai kepala dan mengelus perut mereka. Dan begitu
mendengar suara motorku memasuki rumah, mereka sudah menunggu di depan pintu
masuk. Walaupun aku tahu mereka melakukan ini karena lapar dan minta makan,
setidaknya masih ada yang menungguku di rumah ini. Masih ada yang
membutuhkanku, dan menanti kedatanganku. Kemudian mereka mengikuti langkahku
sampai kamar, dan kami menghabiskan sepanjang hari di tempat ini. Mengusir
segala penat dan lelah yang menghinggapiku setelah seharian bekerja.
Saat terbangun di
tengah malam, aku menemukan mereka di dekat kakiku. Kemudian mereka menggeliat
dengan wajah separuh tidur. Kemudian aku teringat kesehatanku, dan akhirnya terpaksa
memindahkan mereka ke tempat yang sudah ku sediakan. Kemudian saat baru selesai
mandi, melihat mereka masih tidur, gatal rasanya jika tidak menggoda.
Kebiasaanku adalah mengagetkan mereka dengan bermain Cilukba. Sesaat mereka
terkejut, tetapi kemudian kembali tidur setelah sebelumnya melihat wajahku
dengan ekspresi datar mereka.
Tapi sekarang, tidak
akan ada lagi saat-saat seperti itu. Dua hari yang lalu, saat matahari saja
belum muncul, tiba-tiba rumahku kacau. Orang itu memanggil orang suruhan untuk
membuang ketiga kucingku. Aku yang saat itu masih berada di kamar, tidak tahu
apa yang terjadi. Kemudian si kecil Mr. Lee berlari masuk ke kamar dan langsung
duduk di pangkuanku. Sementara Moni, langsung naik ke atas lemari. Beberapa
saat kemudian orang itu masuk ke kamarku dengan membawa karung. Dia berniat
membuang kucingku. Sebisa mungkin aku melindungi Mr. Lee dengan memeluknya erat.
Aku menangis.. Tolong, dua bulan lagi saja. Tunggu sampai aku menikah.
Tidak lama terdengar
suara Gendut meraung-raung. Aku kira Gendut berlari ke langit-langit rumah,
karena Gendut tidak pernah mau disentuh orang lain yang tidak tinggal di rumah
ini. Tapi ternyata aku salah. Di saat aku sedang melindungi Mr. Lee, ternyata
Gendut sudah dimasukkan ke dalam karung. Dan suara raungannya bukan berasal
dari langit-langit rumah, tapi dari dalam karung. Dan sedihnya, aku tahu Gendut
sudah tidak di rumah ini baru pagi tadi.
Aku memang sudah setuju
untuk membuang mereka bertiga, tapi tidak dengan cara seperti ini. Perpisahan
dengan cara ini akan membuatku lebih sulit melepaskan mereka. Setidaknya
biarkan aku mengucapkan selamat tinggal dan minta maaf pada mereka. Yang
membuatku merasa bersalah pada Gendut adalah, malam sebelum Gendut dibuang, aku
lupa memberi mereka makan. Aku kelelahan dengan kegiatan hari itu, sampai
ketiduran.
Dan tadi pagi, orang
yang aku kira akan membelaku, ternyata juga menghendaki mereka dibuang sekarang
juga. Aku lemas, aku merasa tidak punya kemampuan untuk melawan. Hanya aku yang
menginginkan mereka tetap di rumah ini. Aku bisa apa? Rumah ini bukan rumahku.
Dengan terpaksa, sore
ini aku putuskan untuk merelakan Moni dan Mr. Lee juga pergi. Aku beri mereka
makan lebih banyak dari biasanya. Aku perhatikan mereka dari suapan pertama
sampai mereka meninggalkan piring makannya. Tidak habis, mereka sudah
kekenyangan. Aku perhatikan setiap detail corak bulu mereka, agar suatu saat bertemu,
aku masih dapat mengenali mereka. Aku belai perut mereka selama aku sempat, aku
peluk mereka selama aku masih punya waktu.
Dan kebiasaan mereka setelah
makan adalah, tidur.. Kali ini aku tidak
marah mereka tidur di kasurku, untuk terakhir kalinya. Aku ambil foto mereka
sebanyak aku mau, untuk terakhir kalinya. Sambil menangis aku mengucapkan
selamat tinggal dan meminta maaf karena terpaksa melakukan ini. Aku mengobrol
dengan mereka, untuk terakhir kalinya..
Aku menyampaikan pada orang rumah melalui surat
yang isinya begini, “Kalau kucingku mau dibuang, buang sekarang! Sebelum aku
berubah pikiran lagi.” Dan, orang itu benar-benar membuangnya. Mengambilnya
dari kamarku, saat mereka masih tertidur. Aku pasang headset dan pasang musik
sekeras mungkin, agar tidak dapat mendengar raungan pilu mereka. Kalian tahu,
sangat ingin rasanya aku bangun dari kasur dan berlari menghalangi pembuangan
mereka. Tapi lagi-lagi, aku bisa apa?
Walau dengan susah
payah aku mengendalikan diri, aku mencoba mengikhlaskan mereka. Setidaknya aku
sudah meminta maaf dan berterima kasih untuk kebahagiaan dari mereka selama
ini. Sampai hari ini, aku tidak pernah menyalakan lampu dan membuka jendela
kamarku. Aku tidak sanggup melihat kamar yang dulu selalu ada mereka, kini
kembali kosong.
Tidak ada lagi yang bersantai di kasurku.
Tidak ada lagi yang
menemaniku nonton.
Tidak ada lagi yang galau sore-sore di dekat jendela.
Tidak ada lagi yang menggangguku belajar.
Dan
tidak ada lagi yang mesra-mesraan di depanku.
Dua hari aku tidak
makan di rumah, hanya makan jajan di sekolah. Dua hari aku tidak mengajak orang
rumah bicara. Dua hari aku pergi dari pagi sampai malam. Dan dua hari pula aku
terus menangis jika berada di kamar.
Tidak ada lagi yang
bisa dipeluk, dibelai, dikagetin, dan diganggu tidurnya. Tidak ada lagi pendengar
cerita yang baik, tidak ada lagi penyambut kedatanganku, dan tidak ada lagi alasan
untukku cepat-cepat pulang ke rumah karena belum memberi mereka makan. Benar-benar
hampa.. Mungkin aneh bagi yang melihatku sampai terpuruk seperti ini. Mereka
memang hanya kucing liar. Tapi sampai begitu berharganya kucing-kucing itu
untukku, mungkinkah alasannya sederhana? Entahlah..
Gendut, Moni, Mr. Lee..
Baik-baik di luar sana. Cari tempat berteduh yang aman kalau hujan. Jangan cari
masalah dan jangan berkelahi dengan kucing lain. Moni jagain Mr. Lee, ya? Jangan
tinggalin Mr. Lee sendirian. Kalau lagi kenyang dan punya tenaga, cari Gendut,
ya, agar kalian bersama lagi, dan sampaikan maafku untuk Gendut. Aku minta maaf
terpaksa melakukan ini, kalian pasti tahu bagaimana keadaanku. Dan percayalah,
rasa bersalah ini tentu akan terus menghantui seumur hidupku. Doakan
pernikahanku berjalan lancar, ya. Sangat ingin sebenarnya kalian dapat
menyaksikan pernikahanku, apalagi akan ada banyak hidangan kesukaan kalian. Tapi....
Aku hanya berdoa semoga
kalian dapat makan yang cukup setiap harinya, dan semoga akan ada majikan baru
yang bisa sangat menyayangi kalian dan menerima kalian lebih baik lagi.
Gendut.. Moni.. Mr.
Lee.. Selamat tinggal..








Tidak ada komentar:
Posting Komentar