Kamis, 29 Agustus 2013

Gendut, Moni dan Mr. Lee..



#CeritaDariKamar Hari ke-30

Saat akan mendapatkan satu  kebahagiaan baru, haruskah kita kehilangan kebahagiaan lain yang sebelumnya telah kita miliki? Rencana sudah matang, bahwa jika Allah mengijinkan, aku akan menikah dua bulan lagi. Tentu itu adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Tapi kemudian kenyataan memaksaku untuk melepaskan sesuatu yang selama ini telah memberikan kebahagiaan untukku.






 #CeritaDariKamarku bukanlah mengenai benda, tapi mengenai tiga makhluk yang sudah tiga tahun ini menemaniku. Entah perlu diketahui atau tidak, aku terlahir bukan dari keluarga yang hangat. Jadi saat mereka hadir dalam hidupku, sebagian kekosongan ini telah terpenuhi, di mana sebagian lagi telah dipenuhi oleh @nurizalfariz sebelumnya.

 
Mereka mengantar sampai pintu, saat aku hendak meninggalkan rumah. Memaksaku menghentikan langkah sejenak untuk sekedar membelai kepala dan mengelus perut mereka. Dan begitu mendengar suara motorku memasuki rumah, mereka sudah menunggu di depan pintu masuk. Walaupun aku tahu mereka melakukan ini karena lapar dan minta makan, setidaknya masih ada yang menungguku di rumah ini. Masih ada yang membutuhkanku, dan menanti kedatanganku. Kemudian mereka mengikuti langkahku sampai kamar, dan kami menghabiskan sepanjang hari di tempat ini. Mengusir segala penat dan lelah yang menghinggapiku setelah seharian bekerja.
Saat terbangun di tengah malam, aku menemukan mereka di dekat kakiku. Kemudian mereka menggeliat dengan wajah separuh tidur. Kemudian aku teringat kesehatanku, dan akhirnya terpaksa memindahkan mereka ke tempat yang sudah ku sediakan. Kemudian saat baru selesai mandi, melihat mereka masih tidur, gatal rasanya jika tidak menggoda. Kebiasaanku adalah mengagetkan mereka dengan bermain Cilukba. Sesaat mereka terkejut, tetapi kemudian kembali tidur setelah sebelumnya melihat wajahku dengan ekspresi datar mereka.
Tapi sekarang, tidak akan ada lagi saat-saat seperti itu. Dua hari yang lalu, saat matahari saja belum muncul, tiba-tiba rumahku kacau. Orang itu memanggil orang suruhan untuk membuang ketiga kucingku. Aku yang saat itu masih berada di kamar, tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian si kecil Mr. Lee berlari masuk ke kamar dan langsung duduk di pangkuanku. Sementara Moni, langsung naik ke atas lemari. Beberapa saat kemudian orang itu masuk ke kamarku dengan membawa karung. Dia berniat membuang kucingku. Sebisa mungkin aku melindungi Mr. Lee dengan memeluknya erat. Aku menangis.. Tolong, dua bulan lagi saja. Tunggu sampai aku menikah.
Tidak lama terdengar suara Gendut meraung-raung. Aku kira Gendut berlari ke langit-langit rumah, karena Gendut tidak pernah mau disentuh orang lain yang tidak tinggal di rumah ini. Tapi ternyata aku salah. Di saat aku sedang melindungi Mr. Lee, ternyata Gendut sudah dimasukkan ke dalam karung. Dan suara raungannya bukan berasal dari langit-langit rumah, tapi dari dalam karung. Dan sedihnya, aku tahu Gendut sudah tidak di rumah ini baru pagi tadi.
Aku memang sudah setuju untuk membuang mereka bertiga, tapi tidak dengan cara seperti ini. Perpisahan dengan cara ini akan membuatku lebih sulit melepaskan mereka. Setidaknya biarkan aku mengucapkan selamat tinggal dan minta maaf pada mereka. Yang membuatku merasa bersalah pada Gendut adalah, malam sebelum Gendut dibuang, aku lupa memberi mereka makan. Aku kelelahan dengan kegiatan hari itu, sampai ketiduran.
Dan tadi pagi, orang yang aku kira akan membelaku, ternyata juga menghendaki mereka dibuang sekarang juga. Aku lemas, aku merasa tidak punya kemampuan untuk melawan. Hanya aku yang menginginkan mereka tetap di rumah ini. Aku bisa apa? Rumah ini bukan rumahku.
Dengan terpaksa, sore ini aku putuskan untuk merelakan Moni dan Mr. Lee juga pergi. Aku beri mereka makan lebih banyak dari biasanya. Aku perhatikan mereka dari suapan pertama sampai mereka meninggalkan piring makannya. Tidak habis, mereka sudah kekenyangan. Aku perhatikan setiap detail corak bulu mereka, agar suatu saat bertemu, aku masih dapat mengenali mereka. Aku belai perut mereka selama aku sempat, aku peluk mereka selama aku masih punya waktu.
Dan kebiasaan mereka setelah makan adalah, tidur..  Kali ini aku tidak marah mereka tidur di kasurku, untuk terakhir kalinya. Aku ambil foto mereka sebanyak aku mau, untuk terakhir kalinya. Sambil menangis aku mengucapkan selamat tinggal dan meminta maaf karena terpaksa melakukan ini. Aku mengobrol dengan mereka, untuk terakhir kalinya..
Aku  menyampaikan pada orang rumah melalui surat yang isinya begini, “Kalau kucingku mau dibuang, buang sekarang! Sebelum aku berubah pikiran lagi.” Dan, orang itu benar-benar membuangnya. Mengambilnya dari kamarku, saat mereka masih tertidur. Aku pasang headset dan pasang musik sekeras mungkin, agar tidak dapat mendengar raungan pilu mereka. Kalian tahu, sangat ingin rasanya aku bangun dari kasur dan berlari menghalangi pembuangan mereka. Tapi lagi-lagi, aku bisa apa?
Walau dengan susah payah aku mengendalikan diri, aku mencoba mengikhlaskan mereka. Setidaknya aku sudah meminta maaf dan berterima kasih untuk kebahagiaan dari mereka selama ini. Sampai hari ini, aku tidak pernah menyalakan lampu dan membuka jendela kamarku. Aku tidak sanggup melihat kamar yang dulu selalu ada mereka, kini kembali kosong. 

 
Tidak ada lagi yang bersantai di kasurku. 


Tidak ada lagi yang menemaniku nonton. 



Tidak ada lagi yang galau sore-sore di dekat jendela. 



Tidak ada lagi yang menggangguku belajar. 


 Dan tidak ada lagi yang mesra-mesraan di depanku.

Dua hari aku tidak makan di rumah, hanya makan jajan di sekolah. Dua hari aku tidak mengajak orang rumah bicara. Dua hari aku pergi dari pagi sampai malam. Dan dua hari pula aku terus menangis jika berada di kamar.
Tidak ada lagi yang bisa dipeluk, dibelai, dikagetin, dan diganggu tidurnya. Tidak ada lagi pendengar cerita yang baik, tidak ada lagi penyambut kedatanganku, dan tidak ada lagi alasan untukku cepat-cepat pulang ke rumah karena belum memberi mereka makan. Benar-benar hampa.. Mungkin aneh bagi yang melihatku sampai terpuruk seperti ini. Mereka memang hanya kucing liar. Tapi sampai begitu berharganya kucing-kucing itu untukku, mungkinkah alasannya sederhana? Entahlah..
Gendut, Moni, Mr. Lee.. Baik-baik di luar sana. Cari tempat berteduh yang aman kalau hujan. Jangan cari masalah dan jangan berkelahi dengan kucing  lain. Moni jagain Mr. Lee, ya? Jangan tinggalin Mr. Lee sendirian. Kalau lagi kenyang dan punya tenaga, cari Gendut, ya, agar kalian bersama lagi, dan sampaikan maafku untuk Gendut. Aku minta maaf terpaksa melakukan ini, kalian pasti tahu bagaimana keadaanku. Dan percayalah, rasa bersalah ini tentu akan terus menghantui seumur hidupku. Doakan pernikahanku berjalan lancar, ya. Sangat ingin sebenarnya kalian dapat menyaksikan pernikahanku, apalagi akan ada banyak hidangan kesukaan kalian. Tapi....

Aku hanya berdoa semoga kalian dapat makan yang cukup setiap harinya, dan semoga akan ada majikan baru yang bisa sangat menyayangi kalian dan menerima kalian lebih baik lagi.


Gendut.. Moni.. Mr. Lee.. Selamat tinggal..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar