Minggu, 22 September 2013

17 Oktober 2013



Tahun 2008, tahun di mana aku melepas identitas sebagai pelajar SMK. Tahun yang menjadi awal kehidupan baruku. Tahun di mana aku mengenalnya. Bukan, dia bukan teman sekelas atau sekolahku. Berawal dari sebuah syukuran atas lulusnya semua teman sekelasku, kami mengadakannya di rumah seorang teman. Perlu diketahui, mayoritas siswa di sekolahku adalah perempuan. Dan di kelasku, semuanya perempuan, yang tentu saja tidak ada yang bisa menyalakan api unggun.
Kemudian teman-teman pria di sekitar rumah temanku, datang membantu. Tidak, dia tidak ada di antara pria-pria itu. Sampai saat itu, aku belum mengenal wajahnya. Keberadaannya di dunia ini pun aku belum tahu.
Hingga beberapa hari setelah itu, sebuah nomor asing meneleponku. Dia mengaku salah satu tetangga temanku, pun mengenai ketiadaannya di acara itu. Jadi aku belum melihat seperti apa wajahnya, demikian pula dengannya. Tapi jangan mengira saat itu aku mengobrol lama dengannya. Seorang teman merebut ponselnya, menanyakanku mengenai temanku yang malam itu juga hadir di acara yang kuhadiri. Kemudian mereka mengobrol cukup lama dengan tidak menggunakan ponsel mereka sendiri. Hanya sampai seperti itu obrolan awalku dengannya.
Awal yang sederhana..
Tapi dari awal pun kami sudah memiliki perbedaan. Aku bersekolah di sekolah perempuan, sementara dia di sekolah pria, bukan SMA. Awalnya pun kami sudah berbeda.
Kami berkomunikasi melalui ponsel untuk beberapa minggu. Saling mengenal dan saling menggali informasi. Hingga rasa itu sudah tidak dapat terbendung lagi. Rasa ingin bertemu, rasa ingin saling menatap, rasa ingin mengobati penasaran ini. Dia mengajakku bertemu.
Suatu siang setelah pembagian ijazah, dia berjanji akan datang ke sekolahku. Dia menungguku di gerbang sekolah. Dan beberapa saat menunggu, aku menghampirinya setelah memastikan keberadaannya. Kulihat dia duduk di taman pinggir jalan, masih memakai seragam SMK sepertiku, ditambah jaket kain warna hitam. Agak terkejut karena saat melihatku mendekat, dia bangun, buru-buru memakai helm, dan menaiki motornya. Menurut kalian, apa yang ada di pikiranku? Aku pikir dia akan pergi begitu saja, karena mungkin aku tidak seperti yang dia harapkan secara fisik.
Entah perlu diketahui atau tidak, saat itu dunia maya belum setenar sekarang. Ponselku waktu itu saja masih tipe 3315. Jadi remaja-remaja saat itu belum bisa menyelidiki atau stalking akun sosial media gebetannya.
Aku berniat akan masuk kembali ke sekolahku, jika dia benar-benar menjalankan motornya pergi dari tempat itu. Tapi ternyata tidak. Begitu kami sudah dekat, dia menyodorkan helm padaku. Lalu apa yang dia katakan? Tidak ada. Dia bahkan tidak menyuruhku naik ke motornya. Dan saat aku sadar, tiba-tiba aku sudah duduk di belakangnya. Apa-apaan ini?
Awal yang random..
Untuk beberapa saat kami hanya saling diam. Sampai mungkin dia tersadar, dia bertanya, “Kita mau ke mana?”. Dan tentu saja kalian sudah bisa menebak jawabanku, “Tidak tahu.”
Setelah beberapa kilometer perjalanan yang kami tempuh, dia menghentikan motornya di sebuah warung bakso terkenal di kotaku. Terkenal karena ukurannya yang besar. Di warung inilah obrolan kami mengalir dengan sendirinya. Kebekuan mulai mencair dan suasana perlahan menghangat. Bertukar cerita mengenai masa-masa SMK yang sebentar lagi akan kami tinggalkan.
Di tengah aku masih menikmati semangkuk baksoku, dia sudah membalikkan sendok miliknya. Masih ada baksonya, dia hanya menghabiskan separuhnya. Di sini aku dilema. Jika aku habiskan bakso di hadapanku, malu, nanti dia tahu makanku banyak. Tapi aku lapar, tadi pagi tidak sarapan. Lalu aku putuskan untuk menghabiskannya saja. Terserah dia akan berpikiran apa, mubadzir juga, sayang. Sementara di Afrika sana masih banyak anak-anak yang kelaparan. Masa di sini aku malah membuang makanan? :”>
Setelah makan, syukurlah dia tidak membahas masalah porsi makanku. Haha.. Dia kemudian mengantarku pulang, sampai depan rumahku. Kutawarkan masuk, tapi dia menolak. Belum sholat Dhuhur, itu alasannya. Sampai di sini awal perjumpaan kami.
Awal yang biasa saja..
Hari-hari berikutnya, dilanjutkan dengan semakin intensnya kami berkomunikasi. Dan di suatu siang, sekitar dua minggu setelah pertemuan pertama kami, dia mengirimku pesan.
“Aku mau ke Tangerang, diterima kerja di sana. Dan ini sudah sampai di Brebes. Maaf, ya, belum sempat menemuimu lagi. Tadi ingin mampir, tapi nggak tahu kenapa, nggak tega pamit sama kamu. Doakan aku selamat, ya?”
Seperti itu! Aku membeku untuk beberapa saat. Dan tanpa disadari air mataku jatuh. Terkadang sulit memahami diriku sendiri. Aku memang membenci perpisahan. Aku benci ditinggalkan. Tapi kali ini aku menangis untuk pria yang baru sekali aku temui.
Awal yang aneh..
Saat kepulangannya yang pertama, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dan, untuk apa aku menolaknya jika aku memiliki perasaan yang sama. Perasaan sedih saat ditinggalkannya merantau, perasaan rindu saat kami berjauhan, dan perasaan ingin saling melengkapi.
Awal yang mudah..
Sudah bisa ditebak bagaimana kami menjalani hubungan ini. LDR.. Tidak semudah yang kubayangkan pada awalnya. Tidak semulus yang direncanakan pada perjalanannya. Dibumbui kecurigaan dan keraguan akan masing-masing, terkadang timbul perselisihan dan perdebatan. Di pihakku yang egois dan posesif, serta terlalu santai dan menyepelekan di pihaknya.
Bahkan halangan muncul tidak hanya dari kami sendiri. Pertidaksetujuan keluarga, masalah pekerjaan, orang ketiga di kedua pihak, hingga masalah jarak yang awalnya bukan masalah berarti. Satu masalah baru saja selesai, muncul masalah yang baru. Begitu seterusnya hingga hari ini.
Lalu apa yang pada akhirnya membuat kami bertahan sampai lima tahun ini? Kepercayaan saat tidak ada masalah, dan komunikasi saat ada masalah. Karena menurutku, masalah untuk dibicarakan, bukan untuk dimenangkan. Selama kami menjalani ini, saat datang suatu masalah, yang terpenting adalah jangan mematikan ponsel. Masalah hari itu, harus diselesaikan hari itu pula. Perkara besok akan ada masalah lain lagi, tidak boleh masalah hari ini muncul lagi di esok hari. Nanti jadi ganda masalahnya. Dan itu akan semakin membuat rumit keadaan. Dan menurutku, masalah tidak akan selesai hanya dengan salah satu meminta maaf. Solusi dari suatu masalah adalah bukan kata maaf, tapi diskusi.
Lalu tentu saja, hal yang paling membahagiakan dalam hubungan kami adalah, saat dia pulang kampung. Paling cepat, kami bisa bertemu satu bulan sekali. Membosankan, banyak teman-temanku yang mengatakan seperti itu. Memang aku akui, terkadang aku juga merasakan hal itu. Di saat aku benar-benar merindukannya, sementara dia masih banyak kerjaan dan belum bisa pulang. Yang paling menyedihkan adalah saat aku sakit, dia tidak ada di sisiku. Pedih!
Tapi nyatanya kami bisa bertahan selama 5 tahun ini. Segala pedih yang terasa, terobati setelah akhirnya kami bertemu. Dan tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Selama dia berada di rumah, sebisa mungkin aku selalu meluangkan waktu untuknya. Dari menolak ajakan temanku untuk berkumpul bersama mereka, hingga terkadang meliburkan jadwal lesku. Dan satu lagi, vakum sementara dari dunia maya. Haha..
Pertimbanganku adalah, tidak setiap hari dia berada di dekatku. Dia saja sudah berkorban sampai ijin tidak masuk kerja, masa iya saat dia di rumah, aku malah main dengan teman-temanku. Dia memang tidak melarangku. Ini murni sikapku. Bertemu temanku bisa kulakukan kapanpun aku senggang. Semoga teman-temanku mengerti. :)
Dan jika ada yang mengatakan kami dapat bertahan lama karena banyak memiliki kesamaan, itu salah. Selain keyakinan dan tahun kelahiran yang sama, tidak ada lagi yang sama antara aku dan dia. Sifatku yang suka meledak-ledak, diimbangi sifat tenang dan dewasa darinya. Aku suka CNBLUE dan Super Junior, dia suka Green Day dan Simple Plan. Dia suka warna-warna terang, aku suka yang kalem. Dia suka mengobrol di rumah, aku lebih suka mengobrol sambil mengendarai motor. Alasannya adalah karena aku suka bau parfum yang tercium darinya saat aku duduk di jok belakang motornya. Parfum yang sama dengan yang dia pakai saat pertama kali kami bertemu.
Semuanya berbeda.. Tapi bukankah perbedaan itu indah? Perbedaan itu ada agar aku dan dia saling melengkapi.
Dan setelah semua ujian dan perbedaan tadi, inilah jawaban untuk lima tahun yang sudah kami lewati bersama. Lima tahun yang tidak mudah untuk kami jalani. Lima tahun bersama, tapi hanya sepersekian persen dari lima tahun itu di mana kami dapat bertatap muka langsung bukan hanya melalui layar mati.





Apa yang membuatku yakin bahwa dia yang terbaik? Alasannya adalah, dia mengenalku saat aku bukan siapa-siapa, saat masih pengangguran yang hanya punya ijazah SMK. Dari mulai aku menjadi pelayan toko sembako, toko besi, lalu admin di tempat laundry, kemudian di tempat pembayaran listrik, hingga sekarang aku bekerja di sebuah sekolah. Dari yang awalnya tidak ada bayangan aku akan kuliah, hingga tinggal dua semester lagi aku lulus kuliah. Dia menerimaku dari nol. Dari awal yang sederhana, menempuh perjalanan yang rumit, hingga sampai di tujuan yang indah. Insya Allah..
Dan lagi, bukankah cinta tidak memerlukan alasan? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar