Mba Fitri.. Ah, aku lupa siapa
nama panjangnya. Dia seumuran denganku, yaitu kelahiran tahun 1990, tapi satu
angkatan di atasku. Aku mengenalnya dari seorang teman yang mengajakku untuk
les dengan mba Fitri sebagai gurunya. Kalian tahu? Dia pintar sekali. Karena
saat itu posisiku akan segera menghadapi ujian nasional, jadi lesnya difokuskan
pada 3 mata pelajaran saja.
Mungkin ini bedanya diajar oleh
guru yang seperti menjadi teman. Di samping karena dia seumuran denganku, dia
juga menerapkan cara mengajar yang mudah diterima. Aku dengan mudah menangkap
penjelasan darinya, yang saat di sekolah tidak kumengerti sama sekali.
Bersama dua temanku, kami bertiga
datang ke kostan mba Fitri setiap malam dari Senin sampai Kamis. Dari pagi
sampai siang dia bekerja di sebuah
pabrik di kotaku. Dan malamnya mengajari kami bertiga. Untuk sebuah pekerjaan
menylurkan ilmu, nominal yang dia terima saat itu terbilang tidak pantas.
Meskipun begitu, dia tetap maksimal memberikan kami pengarahan.
Selain ketiga mata pelajaran utama,
dia juga tidak menolak saat kami minta bantuan mengerjakan PR mata pelajaran
lain. Hanya satu pelajaran yang tidak bisa dia bantu, yaitu Akuntansi. Tentu
saja, karena dia beda jurusan dengan kami saat SMK dulu. Tapi jangan salah, dia
membantu kami menyampaikan presentasi saat sidang Tugas Akhir. Bagaimana cara
agar tidak gugup, cara mengambil hati penguji, dan dia meminjamkan semua jasnya
kepada kami bertiga.
Aku masih ingat betul hari itu,
hari saat kami akan sidang Tugas Akhir. Sehabis sholat Subuh aku dan kedua
temanku sudah berada di kostan mba Fitri. Mba Fitri yang menyiapkan penampilan
kami agar layak mengikuti sidang. Dia mendandani kami memakai make-up
pribadinya. Tidak semenor saat akan pergi ke kondangan memang, tapi sangat
membantu kami dalam hal percaya diri. Dan saat kami selesai, barulah dia
berangkat kerja.
Sidang Tugas Akhir lancar, UN pun
kami bertiga lulus dengan nilai yang di luar dugaan. Saat pengumuman, hal
pertama yang langsung kulakukan adalah memberi kabar pada mba Fitri. Begini isi
smsku waktu itu, “Mba Fitri, murid-muridnya mba lulus semua. Terimakasih
bimbingannya selama ini.” Dan dia membalas, “Alhamdulillah, mba ikut seneng
kalo gitu.”
Ya, itu terakhir kalinya aku
mengirim pesan padanya. Aku lupa pada mba Fitri karena kesibukanku waktu itu.
Daftar kuliah ke luar kota, ikut ujian seleksi masuk, dan kesibukan lainnya.
Lalu mengapa tiba-tiba aku ingat
padanya? Sederhana saja. Murid lesku yang baru saja lulus SD, sekarang tidak
ikut les lagi di rumahku. Karena memang aku hanya menerima les untuk murid SD.
Aku merasa dilupakan oleh ketiga muridku. Satu perempuan , dan dua laki-laki.
Suatu hari aku berpapasan dengan salah satu dari mereka. Dan, dia tidak
menyapaku. Dua murid yang lain, tidak pernah lagi menanyakan kabarku. Aku
bertanya kepada diriku sendiri, “Mengapa hatiku sesakit ini?”
Berawal dari kejadian itulah, aku
ingat mba Fitri. Mungkinkah mba Fitri merasakan hal yang sama sepertiku? Bahwa
sekedar sapaan pun begitu berarti bagi seseorang. Tapi kami menanyakan kabarnya
pun tidak.
Melalui tulisan ini, aku berharap
siapapun yang mengenal mba Fitri, tolong sampaikan pesan ini untuknya. Sebagai
petunjuk, aku akan memberi informasi yang aku tahu darinya. Dia sebenarnya
orang Semarang, tapi berkerja di pabrik obat nyamuk di kotaku, kota Tegal. Dia
kelahiran tahun 1990, tapi lulus SMK tahun 2007. Dia bersekolah di SMK Farmasi
di Semarang. Rambutnya panjang, kulitnya putih, wajahnya agak mirip Titi Kamal
(ini serius, aku dan dua temanku bepikiran hal serupa), dan bicaranya sedikit
cadel, hanya sedikit. Saat dia di Tegal, dia tinggal di kostan dekat komplek
Universitas Pancasakti Tegal. Untuk yang mau membantu, sebelumnya aku ucapkan
terima kasih.
Mba
Fitri, ini Fatma. Masih ingat tidak? Terima kasih untuk satu tahun kebersamaan
kita dulu mba. Terima kasih atas ilmu yang mba berikan untuk kami. Terima kasih
untuk bantuan mba dulu saat kami mau ujian. Terima kasih juga untuk beberapa
curhat dari kami yang kadang ikut terselip. Hehe..
Maafin
aku mba.. Aku tidak berniat sama sekali untuk melupakan mba Fitri. Nomor ponsel
yang ada nomor mba Fitrinya, sudah hangus. Dan tidak tahu kenapa, aku yakin mba
Fitri sudah tidak di Tegal lagi. Beberapa hari ini aku sering lewat depan
kostan mba Fitri, tapi ragu mau masuk. Dari luar aku perhatikan, orang-orang
yang keluar masuk dari sana bukan teman-teman mba Fitri dulu. Awalnya aku
berniat bertanya pada yang tinggal di sana tentang keberadaan mba Fitri, tapi
mungkinkah mereka kenal mba Fitri?
Maafin
aku dan teman-teman ya mba? Kami tidak sekalipun mengunjungi mba Fitri semenjak
kelulusan. Mba Fitri pasti kecewa, ya? Tiba-tiba aku kangen mba Fitri. L Kalau mba baca tulisanku ini, respon
aku, ya mba? Aku ingin tahu kabar mba. Semoga mba baik-baik saja di mana pun
mba berada. Semoga mba bahagia di sana. Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar