Jumat, 23 November 2012

Aku Pasti Sembuh..



Rabu, 21 November 2012

Hari ini ada pertemuan guru-guru se-kecamatan di sekolahku. Acara hiburannya bukan demo masak seperti biasanya, tetapi diisi dengan pemeriksaan darah gratis dari Kesehatan. Karena jumlah tamu yang datang sampai ratusan orang, aku dan kelima temanku harus mengalah dan memersilahkan yang sepuh-sepuh untuk diperiksa lebih dulu. Lagipula kami harus menyambut tamu dan membantu menyiapkan konsumsi.
Setelah acara selesai, barulah kami bisa mendapat kesempatan untuk pemeriksaan darah. Sekolah sudah sepi, dan di ruangan itu hanya ada kami berlima dan dua orang dari Kesehatan. Karena temanku tidak ada yang bersedia diperiksa lebih dulu, maka akulah yang mendapat giliran pertama.
Awalnya jari tengah tangan kananku ditusuk menggunakan alat yang mirip tembakan. Sedikit dari darahku kemudian dioleskan di atas kaca kecil dan dilihat melalui mikroskop. Hasilnya bisa kulihat melalui layar televisi yang sudah disediakan. Petugasnya seperti sedang memeriksa sesuatu, mengamati gambar yang tidak aku tahu apa artinya. Hanya terlihat seperti gumpalan-gumpalan menurutku.
Petugas itu lalu bertanya padaku, “Apa anda sedang menstruasi?”
“Tidak.” Jawabku. Agak canggung juga karena pertanyaan yang pertama keluar seperti itu.
“Apa anda sering keputihan?” tanyanya lagi.
“Ehm, iya.” Di sini perasaanku mulai tidak enak.
“Seberapa sering?” dia masih bertanya.
“Biasanya setiap setelah menstruasi.” Jawabku.
“Coba anda perhatikan daerah ini.” Dia lalu menunjuk satu bagian pada layar televisi. Aku melihat di antara gumpalan-gumpalan tadi, ada satu bagian yang gumpalannya menempel dan berwarna hitam. Agak lebar, tapi tadi tidak terlihat olehku.
“Apa artinya itu?” tanyaku.
“Anda harus mulai menjaga kesehatan anda. Di sini terlihat tanda-tanda adanya kanker.”
Jeddeeerrr!! Aku kaget bukan main. Penyakit yang selama ini aku harap tidak akan pernah diidap aku dan keluargaku, kini terlihat di dalam tubuhku?
“Tapi tenang saja, baru tanda-tanda kok. Masih bisa hilang. Asal anda mengkonsumsi makanan yang sehat dan menghindari makanan berpengawet.” Dia seperti dapat mengerti ketakutanku.
Pikiranku sedang mengingat, memangnya selama ini apa yang aku makan sampai penyakit ini mendekatiku?
“Juga kurangi memakai celana jeans, kalau bisa jangan pakai celana jeans lagi.” Dia melanjutkan.
Ah, aku memang jarang memakai celana jeans. Bahkan sudah lama selalu pakai rok.
“Benar-benar bisa hilang kan? Makanan apa yang bisa menghilangkannya?” akhirnya aku bisa berucap.
 “Mudah saja, cukup dengan buah-buahan berwarna cerah dan sayur-sayuran. Juga jangan sembarangan memakai pembersih daerah kewanitaan yang PHnya terlalu tinggi.” Jawabnya.
Aku hanya menarik nafas panjang. Tanpa menjawab lagi, aku berpindah tempat duduk ke bagian konsultasi. Lalu petugas konsultasi itu memberiku saran makanan yang harus banyak kukonsumsi dan yang harus dihindari. Tapi pikiranku sudah agak berantakan, hanya sedikit dari perkataannya yang bisa kuingat. Yang masih kuingat hanya perkataan terakhirnya sebelum aku meninggalkan ruangan itu.
“Tapi anda tidak perlu takut. Jika anda takut, itu justru akan semakin memerparah keadaan.”
Haahh.. Bagaimana mungkin aku tidak takut? Aku takut menyusahkan keluargaku, itu saja. Aku harap teman-temanku yang mendengarnya tidak memberitahukan pada ibuku. Bagaimanapun, tentu ini akan membuat beliau kepikiran. Ah, aku tidak mau beliau sakit lagi.
Sampai di rumah, aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku harap ini hanya mimpi, tapi kenyataannya bukan. Teringat cerita dari banyak orang dan bacaan, bagaimana kanker itu. Bagaimana penderitanya harus mengkonsumsi obat, tidak enak badan, menjalani kemoterapi, lalu rambut mulai rontok. Ah, itu sangat mengerikan. :’(
Aku pandangi cincin pertunanganku. Bagaimana jika aku menjadi beban suamiku kelak? Bagaimana jika aku harus selalu menjalani perawatan? Siapa yang akan mengurus suamiku? Lalu bagaimana anakku? Siapa yang akan memasak dan mengantar ke sekolah? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biayaku berobat? Apa masih bisa menabung untuk beli rumah?
Ya Allah, kenapa harus aku? Dari sekian ratus orang yang diperiksa, kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain? Aku takut menyusahkan keluargaku..
Setelah beberapa saat, aku bangun dan duduk. Aku tidak bisa terus meratapi nasib seperti ini. Aku percaya kekuatan pikiran. Aku harus berpikir ini bisa hilang. Aku pasti akan sembuh asal menjaga kesehatan. Aku tidak akan memakai celana jeans lagi. Tidak akan makan makanan yang tidak sehat lagi, aku akan menjaga kesehatan. Aku akan banyak mengkonsumsi buah sirsak. Aku tahu Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan makhluknya. Aku bangkit dan mengadu kepadaNya.
Aku pasti sembuh! Aku ingin menjalani hidup seperti orang lain. Aku ingin menikah. Aku ingin merasakan ada yang menendang-nendang di dalam perutku. Aku ingin merasakan rasanya menyusui bayi, lalu suamiku duduk di sampingku. Aku ingin mendengar saat anakku bisa mengucapkan kata “Ibu, ayah”. Aku ingin mengantarnya di hari pertama masuk sekolah. Aku ingin mengajarinya mengerjakan PR. Aku ingin melerai anak-anakku saat berkelahi dengan saudaranya. Aku ingin merasakan memarahi anakku saat dia masuk ke rumah tanpa melepas sepatunya. Aku ingin melihat suami dan anakku makan masakanku dengan lahap. Aku ingin merasakan mengurus suamiku, mencuci dan menyetrika bajunya. Aku ingin merasakan rasanya punya cucu. Aku ingin merasakan duduk bersama suamiku di saat senja, saat semua anakku sudah berkeluarga dan mandiri. Saat di mana kami sudah sama-sama keriput dan beruban.
Astaghfirullah hal adzim.. Aku ingin merasakan itu semua. Dan aku yakin aku dapat merasakan itu. Sembuhkan aku ya Allah.. Hilangkan ini dari dalam tubuhku.. Aku tidak ingin menyusahkan keluargaku. Aamiin.. :)

Selasa, 20 November 2012

Susahnya mencari Rp 1000,00



Kamis, 15 November 2012

Hari ini adalah hari pertama aku berdagang. Iya, aku jualan baju-baju dan daster batik yang aku ambil dari seorang teman. Jualannya di mana Fat? Hmm.. Cara jualanku agak berbeda. Aku menjajakan daganganku dari rumah ke rumah. Sasarannya tentu saja ibu-ibu rumah tangga. Sekitar dua puluh stel baju yang aku bawa dalam tas, dan dua stel di tangan. Aku keluar dari rumah jam delapan tepat, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Orang pertama yang aku temui adalah seorang penjual sarapan dan anak perempuannya. Dia kelihatan tertarik saat melihat motif dan warnanya. Si anak juga mendukung dengan mengatakan itu cocok buat ibunya. Dia bilang  akan membeli dua stel. Tapi sayang, dia menawar separuh dari harga yang aku berikan. Jujur saja, aku hanya mengambil keuntungan lima ribu rupiah dari setiap stelnya. Jika dia menawar separuh harga, jangankan dapat keuntungan, ganti modal pun tidak. Setelah sekian lama tawar menawar yang sangat alot, akhirnya dia tetap menolak dan tetap menawar separuh harga. -,-
Ya sudahlah, aku melanjutkan perjalanan. Lalu aku temui beberapa ibu dengan berbeda-beda tipe. Ada yang sudah menolak mentah-mentah tanpa melirik yang aku bawa, ada yang tertarik pada satu model tapi kekecilan, ada juga yang minta model sementara aku tidak punya. Yang paling parah, ada yang membiarkanku duduk di tanah sementara dia duduk membuka-buka daganganku di kursi. Dan, tidak beli satupun. :’( *garuk-garuk tanah*
Dengan pundak yang sudah pegal, aku masih melanjutkan perjalanan. Salahku yang tidak memakai tas ransel, tapi memakai koper yang hanya satu tali. Akibatnya, pundakku sakit sebelah.
Aku datangi rumah demi rumah dan menawarkan dengan senyum, walaupun semangatku sudah mulai turun. Ya Allah, ternyata berat juga ini. L
Tapi tidak lama kemudian aku sampai di sebuah rumah yang agak ramai. Ada keluarga yang anak-anaknya sedang berkumpul rupanya. Ini dia yang aku cari, haha.. Di luar dugaanku, mereka memersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kakiku bisa selonjor. Dan di rumah itu, daganganku laku dua walaupun keuntunganku tidak penuh. Tapi tidak apa-apa. Orang-orang mau melihat daganganku saja aku sudah cukup senang, apalagi mereka mau membelinya, kebahagiaanku berlipat tentunya.
Aku melanjutkan perjalanan, kemudian bertemu dengan ibu-ibu yang sudah agak berumur. Saat dia sedang melihat-lihat, anak laki-lakinya keluar dan bertanya, “Ibu mau baju itu?”. Ibunya menjawab, “Tidak, ibu hanya lihat-lihat.” Kemudian anaknya masuk lagi ke dalam rumah.
“Sebenarnya ibu ingin membelikan baju ini untuk menantu ibu. Tapi mau nawar semurah apapun, ibu tidak punya uang, jadi tetap tidak akan beli, Nak.” Kata ibu itu padaku.
“Lho, bukannya tadi anak ibu menawarkan?” tanyaku.
“Ibu sudah cukup merepotkannya dengan kebutuhan sehari-hari yang semua ditanggung dia dan istrinya. Jadi jangan marah, ya kalau ibu tidak beli kali ini.” Katanya.
“Ah, ibu.. Tentu saja tidak apa-apa.” Aku tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.
Tentu saja aku tidak marah. Prinsipku adalah, aku ingin orang-orang membeli daganganku dengan ikhlas. Juga aku ingin tidak ada penyesalan di hati mereka, setelah aku melangkah pergi. Melihat hubungan ibu dengan anaknya tadi, aku berpikir memang seperti itulah seharusnya. Saling mengerti.. Haahh..
Lalu aku masuk ke perumahan yang orang-orangnya lumayan berada menurutku, dan bertemu lagi dengan sebuah keluarga. Kali ini tidak hanya memersilahkan masuk, tapi mereka juga menyuguhiku minum. Alhamdulillah, aku nyaris menangis di situ. Rasanya nikmat sekali minumannya. Seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Aku memang lupa membawa minuman saat berangkat. *lap keringat*
Keluarga itu memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Melihat mereka bercanda, aku merasa seperti bagian dari keluarga itu. Menyenangkan sekali.. Walaupun aku tahu mereka tidak berniat membeli daganganku, tapi mereka tetap menghargai perjuanganku dengan melihat-lihat dan membuka daganganku. Ibunya bahkan menawariku makan. Sayang, jam sepuluh masih terlalu pagi untuk makan siang. Tapi coba kalau ibu itu memaksaku sedikit, aku tidak akan menolaknya. Haha..
Usai mengucapkan terima kasih dan menyalami mereka, aku berjalan lagi. Kemudian bertemu dengan sebuah keluarga yang lagi-lagi memersilahkanku masuk dan duduk di kursi, bukan di tanah. Baju gamisku laku satu dibeli keluarga ini dengan untung penuh, alhamdulillah.. Ibunya juga memesan dua model lagi dengan ukuran dia, dan aku berjanji akan mencarikannya.
Blok-blok berikutnya yang aku temui hanyalah rumah-rumah dengan pagar tinggi, yang berpenghuni, tapi seperti tidak berpenghuni. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke perumahan yang letaknya di seberang. Tapi baru saja melewati jembatan, menyentuh gerbang perumahannya saja belum, tiba-tiba kepalaku pusing dan perut mual. Aku duduk di pinggir jembatan dan berusaha mengumpulkan tenaga lagi. Tapi rasanya aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, kasihan tubuhku juga kalau terlalu dipaksa. Akhirnya aku naik angkot dan bermaksud untuk pulang. Tapi di tengah perjalanan, temanku menyuruhku mampir ke rumahnya untuk melihat-lihat daganganku. Tentu saja aku menurutinya.
Di rumah temanku, aku minum dan makan dengan membabi buta. Mungkin aku pusing karena kehausan dan kelaparan. Haha.. Untunglah ibunya sudah cukup mengenalku, yang memang kalau datang suka  menghabiskan makanannya. Iya, aku memang makannya banyak. Terima kasih Mba Umi dan ibunya, :) mereka juga membeli satu dasterku.
Karena tenagaku penuh lagi, aku pulang dengan berjalan kaki. Sambil menawarkan lagi di sepanjang jalan pulang yang aku lewati. Tapi ternyata jalanan sepi, mungkin karena hari sudah siang jadi banyak yang istirahat.. 
Begitu memasuki jalan ke rumahku, betis rasanya sudah sebesar kaki gajah. Yang aku pikirkan sekarang hanya satu, sampai rumah dan, tiduuurrr... Tapi apa setelah  masuk rumah? Tidak ada yang menegurku. Eh, ada sih. Kucingku menyambut kepulanganku, karena lapar..
Tidak ada orang yang menanyaiku darimana, padahal aku membawa koper sebesar itu. Dan, aku melihat kakak pertamaku sedang bermain PS dengan teman-temannya di rumah depan. Mereka tertawa-tawa. Entah kenapa aku sakit hati melihatnya. Seharian aku panas-panasan, promo sana-sini, sedangkan dia.. Tapi ah, sudahlah. Justru karena ini aku merasa lebih kuat menghadapi hidup ini daripada dia. Aku lebih mandiri tanpa minta uang jajan lagi pada orang tua, kecuali uang kuliah tentu saja.
Ya sudah, selamat tidur.. :) *dadah dadah* *pasang koyo di kaki*

Rabu, 07 November 2012

Titik..

Terlihat di setiap pandangan..
Di antara kabut kelam..
Bercahaya namun padam..
Lalu kemudian hilang..

Aku yang lalai..
Rindu akan damai..
Berada dalam ramai..
Namun tak tergapai..

Indah saat dibayangkan..
Membawa tinggi melayang..
Namun berlebih aku tenggelam..
Limbah cinta yang membenam..

Masih di sini menanti mentari..
Walau mungkin tak pasti..
Harus apa lagi aku ini?
Harus apa lagi aku kini?

Dia yang tak kunjung mengerti..
Tetap tak akan mengerti..
Harus bagaimana lagi?
Harus apa lagi?

Senin, 05 November 2012

Cerita Labil

          Iseng-iseng saya buka file lama, dan menemukan cerpen ini. Haha.. Saya sendiri tertawa membaca cerpen bikinan sendiri. Dan ternyata, ini baru dibuat awal tahun 2012. Astaga.. Ternyata saya pernah juga mengalami masa labil itu, dan baru-baru saja terjadi. Tapi syukurlah, saya sudah sadar dan insyaf. :) Kalau tidak salah waktu itu saya ikut sebuah kompetisi yang diadakan salah satu fanspage di facebook. Semoga kalian yang membaca ini tidak mual ya.. :D


SM*SH,,SEMOGA KALIAN MEMBACA INI..


11 Januari 2012

          Indah sekali langit hari ini. Biru seluruhnya dengan bercak awan putih, tanpa mendung sedikit pun. Lampu raksasa bersinar angkuh dan menyilau sinis kepadaku yang terduduk di teduhnya rumahku sambil menatap 2 foto yang semenjak tadi ada di genggamanku..

            “San, ayo masuk. Di luar panas sekali.” Suara ibu memecah lamunanku.
            “Sebentar lagi, Bu. Suasananya nyaman sekali di sini.” Ucapku.

            Lalu ibu kembali masuk ke dalam rumah. Ya, suasana seperti ini, persis seperti hari itu.

***

Hapuslah air matamu,,kini ku hanya datang untukmu..
Memang hidup kadang susah,,bikin gelisah..

5 Januari 2012

            Sepanjang jalan menuju rumah, aku berjalan dengan sedikit langkah melompat. Langit cerah semakin menambah kegiranganku, setelah seharian menyerap ilmu yang padahal tidak sepenuhnya dapat ku serap. Dari dalam saku seragamku, aku mengambil secarik kertas. Aku tersenyum menatap kertas itu sejenak, lalu mengembalikannya lagi di tempat ternyaman, di saku seragamku. Tidak mudah sampai aku bisa mendapatkan tiket ini, aku tidak ingin menghilangkannya.

            Kegiranganku semakin bertambah mendapati motor ayahku terparkir di halaman rumahku. Karena itu menandakan ayahku telah pulang dari mengajar.

          “Assalamu’alaikum.” Salamku begitu melewati pintu.
          “Wa’alaikumsalam.” Suara ayah dan ibuku dari arah meja makan.

          Mendadak suasana di dalam rumah begitu mencekam bagiku. Dengan langkah perlahan, aku menuju kursi di sebelah ayah. Ibu masih menyiapkan makan siang untuk kami. Lama aku menatap wajah ayah, apakah perasaan ayah sedang baik hari ini? Tak lama, Mamas, kakakku keluar dari kamarnya. Setelah mencuci tanganku, berempat kami menyantap masakan yang sudah ibu siapkan.

          Sementara kami makan, aku hanya bias terdiam. Aku terus berpikir, bagaimana mengatakan ini pada mereka. Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakan ini?

          “Ayah, ibu.. Sani mau ngomong.” Ucapku setelah ku lihat semua piring telah kosong.
          “Ngomong apa, San?” Tanya ayah bijaksana.
          “Ayah punya uang Rp 80.000,- ga?” aku memberanikan diri untuk menanyakan ini.
          “Memang buat apa?” Tanya ayah lagi.
          “Buat bayar sewa mobil, Yah.” Suaraku sedikit bergetar.
          “Mobil? Maksudnya?” ayah menatapku lekat – lekat.
          “Hari Sabtu besok, Sani sama temen – temen mau ke Semarang, Yah. Rencananya kita mau nyewa mobil.” Sampai di sini tanganku ikut bergetar.
          “Lho, mau ngapain ke Semarang?" Ayah nampak kaget mendengarnya.

          Aku menarik napas panjang, kemudian menundukkan kepalaku.

          “Sani mau nonton konsernya SM*SH, Yah.” Ujarku lirih sambil tetap menunduk.
          “Jangan boleh, Yah.” Kali ini ibu yang bersuara.

          Aku mendongak menatap ibu, kemudian beralih menatap ayah.

          “Nanti yang nyetir siapa?” Tanya ayah.
          “Tetangganya temen Sani, Yah. Dia juga yang punya mobil.” Jawabku semangat. Sepertinya ada harapan aku akan diijinkan.
          “Ayah, jangan boleh.” Ibu kembali mendesak ayah.
          “Tapi Sani udah beli tiketnya, Bu. Sani beli pake uang Sani sendiri kok." Kataku sambil mengambil tiket yang ada di saku seragamku.
          “Semarang itu jauh, Sani.” Ucap ayah setelah terdiam beberapa saat.
          “yAah, Ayah.. Cuma Rp 80.000,- kok.” Aku masih membujuk ayah.
          “Ini bukan masalah uangnya. Kalau konsernya di Tegal boleh, pasti ayah mengijinkan. Sani ga tau kan daerah Semarang? Sani belum tau kan di mana tempatnya.? Nanti kalau nyasar gimana? Kalaupun ketemu, Sani belum tentu kan bias ngobrol sama SM*SH nya langsung, atau foto bareng? Apa nanti ga kecewa?” ayah mencoba memberiku pengertian.
          “Tapi Sani ke sananya rame – rame, Yah. Kapan lagi coba SM*SH ke Jawa Tengah? Kemarin waktu M&G SM*SH di Pekalongan, Sani udah berbesar hati ga nonton karna tiketnya mahal. Sekarang Sani ga perlu ke Karawang atau Jakarta, ini di Semarang, Yah. Atau kalo ayah khawatir, biar Mamas nemenin Sani ke sana ya?” aku menoleh pada Mamas.
          “Ga, Ahh.. Mamas mau ngurusin skripsi biar cepet selesai.” Jawaban Mamas membuatku kecewa.
          “Boleh ya, Yah. Sani pengen bnget liat SM*SH secara langsung.” Aku kembali menatap ayah.
          “Ga boleh. Nanti ayah belikan aja semua majalah yang ada berita SM*SH nya. Kalau perlu, sama kaset dan CD aslinya SM*SH  juga.” Setelah berkata begitu, ayah mengambil Koran dan membacanya. Dan itu menandakan keputusan ayah sudah tidak dapat lagi dirubah.

          Kemudian aku berlari menuju kamarku dan mengunci pintunya. Tidak ku pedulikan piring kotor yang masih menumpuk, yang seharusnya menjadi tugasku untuk mencucinya. Aku membenamkan wajahku di atas bantal, aku menangis. Aku sungguh kecewa, aku merasa ayah tidak menyayangiku.

Genggamlah tanganku,,aku akan selalu mendukungmu setiap waktu..
Curahkan semua kesal, amarah, lelah,,sampai hilang semua beban itu..

***

6 Januari 2012

          “Gimana, San? Hari ini uangnya harus udah kumpul lho.” Kata temanku Pipi saat jam istirahat.
          “Aku ga ikut, Pi. Aku ga dibolehin sama ayah.” Jawabku lemah.
          “Kamu kan udah beli tiketnya, San. Apa ga sayang?” Tanya Pipi lagi.
          “Mau gimana lagi, aku ga punya uang.” Sekuat tenaga aku menahan tangis.
          “Mau aku pinjemin uang dulu? Boleh dech, nanti bayarnya nyicil.” Kata Pipi.
          “Beneran, Pi?” tanyaku dengan mata berbinar.
          “Iya.” Jawab Pipi sambil tersenyum.
          “Makasih banget, Pi.” Aku memeluknya.

Jangan hiraukan,,mereka yang benci..
Menghina penuh iri,,dan melukai hati..
Mungkin mereka ingin sepertimu,,tapi ternyata tak mampu..

***

7 Januari 2012

            Saat tiba di rumah Pipi, semua teman – temanku sudah berkumpul di sana. Setelah mengganti seragamku, aku bergegas keluar menyusul teman – temanku. Kami bersembilan sempat berfoto bersama sebelum masuk ke dalam mobil. Pipi duduk di sebelah supir, sedangkan aku duduk di belakang

            Semuanya terlihat gembira, tidak terkecuali aku. Akhirnya, sebentar lagi aku akan bertemu SM*SH secara langsung. Bila mungkin, aku juga ingin menyentuh mereka.

            Mobil yang kami tumpangi berbelok ke arah kiri. Kemudian bergabung dengan kendaraan lainnya yang melintas di jalur Pantura. Apa mungkin SM*SH juga melewati jalan ini ya? Aku membayangkan bila mobil SM*SH berada tepat di depan mobil kami. Kami akan mengejar dan menghentikannya. Lalu kami ikut bersama di dalam mobil SM*SH, dan sepanjang jalan kami puas menatap wajah mereka. Hihihi.. Andai saja itu terjadi.

            Sebuah truk berada di depan berjalan lambat dan menghalangi laju mobil kami. Mau tidak mau kami ikut mengurangi kecepatan dan mengikuti truk itu dari belakang.

            Setelah beberapa saat, supir kami mulai kehilangan kesabaran. Kemudian dia berniat untuk menyalip truk itu. Dia mulai mengarahkan kemudi ke arah kanan truk. Tapi entah benar, atau hanya perasaanku saja. Aku merasa kami terlalu jauh mengarah ke kanan. Dalam beberapa detik, aku menjadi benar – benar yakin, kami memang berada di jalur yang salah. Terbukti setelah dari arah berlawanan terlihat sebuah bus berada tepat di depan mobil kami, dan.. Brraaaaakkkkk…

            Lalu semuanya menjadi gelap.

Mungkin tak setiap hari,,ku s’lalu kan bisa menemani..
Tapi tak perlu kau resah,,semua akan berakhir indah..

***

11 Januari 2012

Aku kembali menatap 2 foto yang berada di pangkuanku. Satu foto adalah foto kami bersembilan. Aku menyapu wajah mereka satu per satu dari arah kiri ke kanan.

“Syukurlah, kalian selamat.” Aku tersenyum.

Percaya padaku,,aku akan selalu menangkapmu kala kau jatuh..
Hilangkan semua bimbang, resah, gundah,,sampai lenyap semua beban itu..

Kemudian jariku sampai pada wajah Pipi, yang berada paling ujung di sebelah kanan. Aku mengusap gambar wajahnya.

“Pipi, semoga kau tenang di alam sana. Terimakasih kau sudah baik padaku. Hutang Rp 80.000,- ku sudah aku serahkan kepada anak – anak yatim piatu.” Aku mencium foto Pipi.

Kemudian aku beralih pada satu foto yang lain. Itu adalah foto SM*SH lengkap yang aku dapat dari majalah pemberian ayahku. Aku tersenyum lagi.

“Maafkan kami, jika menurut kalian kami fanatic. Tapi sungguh, cinta kami tulus kepada kalian. Terimakasih, telah menjadi penyemangatku selama ini. Terimakasih, kalian selalu tersenyum walau sering dicaci. Terimakasih, kalian telah mengajarkan sebuah persahabatan dalam perbedaan. Terimakasih, kalian telah mempertemukan kami dari berbagai daerah, menyatu menjadi SMASHBLAST. Teruslah berkarya untuk kami. Buktikan pada mereka yang membenci kalian. Cinta kami SMASHBLAST, selalu mengiringi perjalanan kalian SM*SH. Yakinlah, tidak akan ada yang mampu menggantikan kalian SM*SH, di hati kami SMASHBLAST.”

Kebersamaan janganlah pernah usai..
Sedih atau senang,,say hello dan say goodbye..
Percaya padaku,,semua akan berlalu..
Genggam tanganku,,hapuslah air matamu..
Berhentilah manyun,,mukamu jadi culun..
Mandi atau belum,,berikan aku senyum..

Aku memeluk dua foto itu. Kemudian Mamas menuju ke arahku.

“Kita masuk yUuk, udah sore.” Ajak Mamas.

Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Mamas kemudian mendorong kursi rodaku.

“SM*SH, walaupun aku kehilangan kedua pergelangan kakiku. Semangatku tidak akan surut untuk terus mendukung kalian. Aku masih jauh lebih beruntung karena masih memiliki nyawa dan mata ini untuk menyaksikan kalian melalui layar mati.”

Lihatlah ke langit,,pelangi penuh warna..
Yakinlah hujan inikan reda..
Mari bernyanyi,,du dididi dadada..
Hilangkan resah dan duka..
Hapuslah air mata,,kita kan bahagia..
Pasti kita kembali tertawa..
Aku dan kamu,,kita akan bersama..
Bersama dalam tawa duka..


            Pelajaran yang bisa diambil..
Turutilah orang tua kalian walaupun itu keterlaluan menurut kita..