Rabu, 21 November 2012
Hari ini ada
pertemuan guru-guru se-kecamatan di sekolahku. Acara hiburannya bukan demo
masak seperti biasanya, tetapi diisi dengan pemeriksaan darah gratis dari
Kesehatan. Karena jumlah tamu yang datang sampai ratusan orang, aku dan kelima
temanku harus mengalah dan memersilahkan yang sepuh-sepuh untuk diperiksa lebih
dulu. Lagipula kami harus menyambut tamu dan membantu menyiapkan konsumsi.
Setelah acara
selesai, barulah kami bisa mendapat kesempatan untuk pemeriksaan darah. Sekolah
sudah sepi, dan di ruangan itu hanya ada kami berlima dan dua orang dari
Kesehatan. Karena temanku tidak ada yang bersedia diperiksa lebih dulu, maka
akulah yang mendapat giliran pertama.
Awalnya jari
tengah tangan kananku ditusuk menggunakan alat yang mirip tembakan. Sedikit
dari darahku kemudian dioleskan di atas kaca kecil dan dilihat melalui
mikroskop. Hasilnya bisa kulihat melalui layar televisi yang sudah disediakan.
Petugasnya seperti sedang memeriksa sesuatu, mengamati gambar yang tidak aku
tahu apa artinya. Hanya terlihat seperti gumpalan-gumpalan menurutku.
Petugas itu lalu
bertanya padaku, “Apa anda sedang menstruasi?”
“Tidak.”
Jawabku. Agak canggung juga karena pertanyaan yang pertama keluar seperti itu.
“Apa anda sering
keputihan?” tanyanya lagi.
“Ehm, iya.” Di
sini perasaanku mulai tidak enak.
“Seberapa
sering?” dia masih bertanya.
“Biasanya setiap
setelah menstruasi.” Jawabku.
“Coba anda
perhatikan daerah ini.” Dia lalu menunjuk satu bagian pada layar televisi. Aku
melihat di antara gumpalan-gumpalan tadi, ada satu bagian yang gumpalannya
menempel dan berwarna hitam. Agak lebar, tapi tadi tidak terlihat olehku.
“Apa artinya
itu?” tanyaku.
“Anda harus
mulai menjaga kesehatan anda. Di sini terlihat tanda-tanda adanya kanker.”
Jeddeeerrr!! Aku
kaget bukan main. Penyakit yang selama ini aku harap tidak akan pernah diidap
aku dan keluargaku, kini terlihat di dalam tubuhku?
“Tapi tenang
saja, baru tanda-tanda kok. Masih bisa hilang. Asal anda mengkonsumsi makanan
yang sehat dan menghindari makanan berpengawet.” Dia seperti dapat mengerti
ketakutanku.
Pikiranku sedang
mengingat, memangnya selama ini apa yang aku makan sampai penyakit ini
mendekatiku?
“Juga kurangi
memakai celana jeans, kalau bisa jangan pakai celana jeans lagi.” Dia
melanjutkan.
Ah, aku memang
jarang memakai celana jeans. Bahkan sudah lama selalu pakai rok.
“Benar-benar
bisa hilang kan?
Makanan apa yang bisa menghilangkannya?” akhirnya aku bisa berucap.
“Mudah saja, cukup dengan buah-buahan berwarna
cerah dan sayur-sayuran. Juga jangan sembarangan memakai pembersih daerah
kewanitaan yang PHnya terlalu tinggi.” Jawabnya.
Aku hanya
menarik nafas panjang. Tanpa menjawab lagi, aku berpindah tempat duduk ke
bagian konsultasi. Lalu petugas konsultasi itu memberiku saran makanan yang
harus banyak kukonsumsi dan yang harus dihindari. Tapi pikiranku sudah agak
berantakan, hanya sedikit dari perkataannya yang bisa kuingat. Yang masih
kuingat hanya perkataan terakhirnya sebelum aku meninggalkan ruangan itu.
“Tapi anda tidak
perlu takut. Jika anda takut, itu justru akan semakin memerparah keadaan.”
Haahh..
Bagaimana mungkin aku tidak takut? Aku takut menyusahkan keluargaku, itu saja.
Aku harap teman-temanku yang mendengarnya tidak memberitahukan pada ibuku.
Bagaimanapun, tentu ini akan membuat beliau kepikiran. Ah, aku tidak mau beliau
sakit lagi.
Sampai di rumah,
aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku harap ini hanya mimpi, tapi
kenyataannya bukan. Teringat cerita dari banyak orang dan bacaan, bagaimana
kanker itu. Bagaimana penderitanya harus mengkonsumsi obat, tidak enak badan,
menjalani kemoterapi, lalu rambut mulai rontok. Ah, itu sangat mengerikan. :’(
Aku pandangi
cincin pertunanganku. Bagaimana jika aku menjadi beban suamiku kelak? Bagaimana
jika aku harus selalu menjalani perawatan? Siapa yang akan mengurus suamiku?
Lalu bagaimana anakku? Siapa yang akan memasak dan mengantar ke sekolah? Berapa
banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biayaku berobat? Apa masih bisa
menabung untuk beli rumah?
Ya Allah, kenapa
harus aku? Dari sekian ratus orang yang diperiksa, kenapa harus aku? Kenapa
tidak orang lain? Aku takut menyusahkan keluargaku..
Setelah beberapa
saat, aku bangun dan duduk. Aku tidak bisa terus meratapi nasib seperti ini.
Aku percaya kekuatan pikiran. Aku harus berpikir ini bisa hilang. Aku pasti
akan sembuh asal menjaga kesehatan. Aku tidak akan memakai celana jeans lagi.
Tidak akan makan makanan yang tidak sehat lagi, aku akan menjaga kesehatan. Aku
akan banyak mengkonsumsi buah sirsak. Aku tahu Allah tidak akan memberi cobaan
di luar batas kemampuan makhluknya. Aku bangkit dan mengadu kepadaNya.
Aku pasti
sembuh! Aku ingin menjalani hidup seperti orang lain. Aku ingin menikah. Aku
ingin merasakan ada yang menendang-nendang di dalam perutku. Aku ingin
merasakan rasanya menyusui bayi, lalu suamiku duduk di sampingku. Aku ingin
mendengar saat anakku bisa mengucapkan kata “Ibu, ayah”. Aku ingin mengantarnya
di hari pertama masuk sekolah. Aku ingin mengajarinya mengerjakan PR. Aku ingin
melerai anak-anakku saat berkelahi dengan saudaranya. Aku ingin merasakan
memarahi anakku saat dia masuk ke rumah tanpa melepas sepatunya. Aku ingin
melihat suami dan anakku makan masakanku dengan lahap. Aku ingin merasakan
mengurus suamiku, mencuci dan menyetrika bajunya. Aku ingin merasakan rasanya
punya cucu. Aku ingin merasakan duduk bersama suamiku di saat senja, saat semua
anakku sudah berkeluarga dan mandiri. Saat di mana kami sudah sama-sama keriput
dan beruban.
Astaghfirullah
hal adzim.. Aku ingin merasakan itu semua. Dan aku yakin aku dapat merasakan itu.
Sembuhkan aku ya Allah.. Hilangkan ini dari dalam tubuhku.. Aku tidak ingin
menyusahkan keluargaku. Aamiin.. :)
