Tahun 2008, tahun di
mana aku melepas identitas sebagai pelajar SMK. Tahun yang menjadi awal
kehidupan baruku. Tahun di mana aku mengenalnya. Bukan, dia bukan teman sekelas
atau sekolahku. Berawal dari sebuah syukuran atas lulusnya semua teman
sekelasku, kami mengadakannya di rumah seorang teman. Perlu diketahui,
mayoritas siswa di sekolahku adalah perempuan. Dan di kelasku, semuanya
perempuan, yang tentu saja tidak ada yang bisa menyalakan api unggun.
Kemudian teman-teman
pria di sekitar rumah temanku, datang membantu. Tidak, dia tidak ada di antara
pria-pria itu. Sampai saat itu, aku belum mengenal wajahnya. Keberadaannya di
dunia ini pun aku belum tahu.
Hingga beberapa hari
setelah itu, sebuah nomor asing meneleponku. Dia mengaku salah satu tetangga
temanku, pun mengenai ketiadaannya di acara itu. Jadi aku belum melihat seperti
apa wajahnya, demikian pula dengannya. Tapi jangan mengira saat itu aku
mengobrol lama dengannya. Seorang teman merebut ponselnya, menanyakanku
mengenai temanku yang malam itu juga hadir di acara yang kuhadiri. Kemudian
mereka mengobrol cukup lama dengan tidak menggunakan ponsel mereka sendiri.
Hanya sampai seperti itu obrolan awalku dengannya.
Awal yang sederhana..
Tapi dari awal pun kami
sudah memiliki perbedaan. Aku bersekolah di sekolah perempuan, sementara dia di
sekolah pria, bukan SMA. Awalnya pun kami sudah berbeda.
Kami berkomunikasi
melalui ponsel untuk beberapa minggu. Saling mengenal dan saling menggali
informasi. Hingga rasa itu sudah tidak dapat terbendung lagi. Rasa ingin
bertemu, rasa ingin saling menatap, rasa ingin mengobati penasaran ini. Dia
mengajakku bertemu.
Suatu siang setelah
pembagian ijazah, dia berjanji akan datang ke sekolahku. Dia menungguku di
gerbang sekolah. Dan beberapa saat menunggu, aku menghampirinya setelah
memastikan keberadaannya. Kulihat dia duduk di taman pinggir jalan, masih memakai
seragam SMK sepertiku, ditambah jaket kain warna hitam. Agak terkejut karena
saat melihatku mendekat, dia bangun, buru-buru memakai helm, dan menaiki
motornya. Menurut kalian, apa yang ada di pikiranku? Aku pikir dia akan pergi
begitu saja, karena mungkin aku tidak seperti yang dia harapkan secara fisik.
Entah perlu diketahui
atau tidak, saat itu dunia maya belum setenar sekarang. Ponselku waktu itu saja
masih tipe 3315. Jadi remaja-remaja saat itu belum bisa menyelidiki atau stalking akun sosial media gebetannya.
Aku berniat akan masuk
kembali ke sekolahku, jika dia benar-benar menjalankan motornya pergi dari
tempat itu. Tapi ternyata tidak. Begitu kami sudah dekat, dia menyodorkan helm
padaku. Lalu apa yang dia katakan? Tidak ada. Dia bahkan tidak menyuruhku naik
ke motornya. Dan saat aku sadar, tiba-tiba aku sudah duduk di belakangnya.
Apa-apaan ini?
Awal yang random..
Untuk beberapa saat
kami hanya saling diam. Sampai mungkin dia tersadar, dia bertanya, “Kita mau ke
mana?”. Dan tentu saja kalian sudah bisa menebak jawabanku, “Tidak tahu.”
Setelah beberapa
kilometer perjalanan yang kami tempuh, dia menghentikan motornya di sebuah
warung bakso terkenal di kotaku. Terkenal karena ukurannya yang besar. Di
warung inilah obrolan kami mengalir dengan sendirinya. Kebekuan mulai mencair
dan suasana perlahan menghangat. Bertukar cerita mengenai masa-masa SMK yang
sebentar lagi akan kami tinggalkan.
Di tengah aku masih
menikmati semangkuk baksoku, dia sudah membalikkan sendok miliknya. Masih ada
baksonya, dia hanya menghabiskan separuhnya. Di sini aku dilema. Jika aku
habiskan bakso di hadapanku, malu, nanti dia tahu makanku banyak. Tapi aku
lapar, tadi pagi tidak sarapan. Lalu aku putuskan untuk menghabiskannya saja.
Terserah dia akan berpikiran apa, mubadzir juga, sayang. Sementara di Afrika
sana masih banyak anak-anak yang kelaparan. Masa di sini aku malah membuang
makanan? :”>
Setelah makan, syukurlah
dia tidak membahas masalah porsi makanku. Haha.. Dia kemudian mengantarku
pulang, sampai depan rumahku. Kutawarkan masuk, tapi dia menolak. Belum sholat
Dhuhur, itu alasannya. Sampai di sini awal perjumpaan kami.
Awal yang biasa saja..
Hari-hari berikutnya,
dilanjutkan dengan semakin intensnya kami berkomunikasi. Dan di suatu siang,
sekitar dua minggu setelah pertemuan pertama kami, dia mengirimku pesan.
“Aku mau ke Tangerang,
diterima kerja di sana. Dan ini sudah sampai di Brebes. Maaf, ya, belum sempat
menemuimu lagi. Tadi ingin mampir, tapi nggak tahu kenapa, nggak tega pamit
sama kamu. Doakan aku selamat, ya?”
Seperti itu! Aku
membeku untuk beberapa saat. Dan tanpa disadari air mataku jatuh. Terkadang sulit
memahami diriku sendiri. Aku memang membenci perpisahan. Aku benci
ditinggalkan. Tapi kali ini aku menangis untuk pria yang baru sekali aku temui.
Awal yang aneh..
Saat kepulangannya yang
pertama, dia menyatakan perasaannya terhadapku. Dan, untuk apa aku menolaknya
jika aku memiliki perasaan yang sama. Perasaan sedih saat ditinggalkannya
merantau, perasaan rindu saat kami berjauhan, dan perasaan ingin saling
melengkapi.
Awal yang mudah..
Sudah bisa ditebak
bagaimana kami menjalani hubungan ini. LDR.. Tidak semudah yang kubayangkan
pada awalnya. Tidak semulus yang direncanakan pada perjalanannya. Dibumbui
kecurigaan dan keraguan akan masing-masing, terkadang timbul perselisihan dan
perdebatan. Di pihakku yang egois dan posesif, serta terlalu santai dan
menyepelekan di pihaknya.
Bahkan halangan muncul
tidak hanya dari kami sendiri. Pertidaksetujuan keluarga, masalah pekerjaan, orang
ketiga di kedua pihak, hingga masalah jarak yang awalnya bukan masalah berarti.
Satu masalah baru saja selesai, muncul masalah yang baru. Begitu seterusnya
hingga hari ini.
Lalu apa yang pada
akhirnya membuat kami bertahan sampai lima tahun ini? Kepercayaan saat tidak ada
masalah, dan komunikasi saat ada masalah. Karena menurutku, masalah untuk
dibicarakan, bukan untuk dimenangkan. Selama kami menjalani ini, saat datang
suatu masalah, yang terpenting adalah jangan mematikan ponsel. Masalah hari
itu, harus diselesaikan hari itu pula. Perkara besok akan ada masalah lain lagi,
tidak boleh masalah hari ini muncul lagi di esok hari. Nanti jadi ganda
masalahnya. Dan itu akan semakin membuat rumit keadaan. Dan menurutku, masalah
tidak akan selesai hanya dengan salah satu meminta maaf. Solusi dari suatu
masalah adalah bukan kata maaf, tapi diskusi.
Lalu tentu saja, hal yang paling membahagiakan dalam hubungan kami adalah, saat dia pulang kampung. Paling cepat, kami bisa bertemu satu bulan sekali. Membosankan, banyak teman-temanku yang mengatakan seperti itu. Memang aku akui, terkadang aku juga merasakan hal itu. Di saat aku benar-benar merindukannya, sementara dia masih banyak kerjaan dan belum bisa pulang. Yang paling menyedihkan adalah saat aku sakit, dia tidak ada di sisiku. Pedih!
Tapi nyatanya kami bisa bertahan selama 5 tahun ini. Segala pedih yang terasa, terobati setelah akhirnya kami bertemu. Dan tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Selama dia berada di rumah, sebisa mungkin aku selalu meluangkan waktu untuknya. Dari menolak ajakan temanku untuk berkumpul bersama mereka, hingga terkadang meliburkan jadwal lesku. Dan satu lagi, vakum sementara dari dunia maya. Haha..
Pertimbanganku adalah, tidak setiap hari dia berada di dekatku. Dia saja sudah berkorban sampai ijin tidak masuk kerja, masa iya saat dia di rumah, aku malah main dengan teman-temanku. Dia memang tidak melarangku. Ini murni sikapku. Bertemu temanku bisa kulakukan kapanpun aku senggang. Semoga teman-temanku mengerti. :)
Lalu tentu saja, hal yang paling membahagiakan dalam hubungan kami adalah, saat dia pulang kampung. Paling cepat, kami bisa bertemu satu bulan sekali. Membosankan, banyak teman-temanku yang mengatakan seperti itu. Memang aku akui, terkadang aku juga merasakan hal itu. Di saat aku benar-benar merindukannya, sementara dia masih banyak kerjaan dan belum bisa pulang. Yang paling menyedihkan adalah saat aku sakit, dia tidak ada di sisiku. Pedih!
Tapi nyatanya kami bisa bertahan selama 5 tahun ini. Segala pedih yang terasa, terobati setelah akhirnya kami bertemu. Dan tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Selama dia berada di rumah, sebisa mungkin aku selalu meluangkan waktu untuknya. Dari menolak ajakan temanku untuk berkumpul bersama mereka, hingga terkadang meliburkan jadwal lesku. Dan satu lagi, vakum sementara dari dunia maya. Haha..
Pertimbanganku adalah, tidak setiap hari dia berada di dekatku. Dia saja sudah berkorban sampai ijin tidak masuk kerja, masa iya saat dia di rumah, aku malah main dengan teman-temanku. Dia memang tidak melarangku. Ini murni sikapku. Bertemu temanku bisa kulakukan kapanpun aku senggang. Semoga teman-temanku mengerti. :)
Dan jika ada yang
mengatakan kami dapat bertahan lama karena banyak memiliki kesamaan, itu salah.
Selain keyakinan dan tahun kelahiran yang sama, tidak ada lagi yang sama antara
aku dan dia. Sifatku yang suka meledak-ledak, diimbangi sifat tenang dan dewasa
darinya. Aku suka CNBLUE dan Super Junior, dia suka Green Day dan Simple Plan.
Dia suka warna-warna terang, aku suka yang kalem. Dia suka mengobrol di rumah,
aku lebih suka mengobrol sambil mengendarai motor. Alasannya adalah karena aku
suka bau parfum yang tercium darinya saat aku duduk di jok belakang motornya.
Parfum yang sama dengan yang dia pakai saat pertama kali kami bertemu.
Semuanya berbeda.. Tapi
bukankah perbedaan itu indah? Perbedaan itu ada agar aku dan dia saling
melengkapi.
Dan setelah semua ujian
dan perbedaan tadi, inilah jawaban untuk lima tahun yang sudah kami lewati
bersama. Lima tahun yang tidak mudah untuk kami jalani. Lima tahun bersama,
tapi hanya sepersekian persen dari lima tahun itu di mana kami dapat bertatap
muka langsung bukan hanya melalui layar mati.
Apa yang membuatku
yakin bahwa dia yang terbaik? Alasannya adalah, dia mengenalku saat aku bukan
siapa-siapa, saat masih pengangguran yang hanya punya ijazah SMK. Dari mulai
aku menjadi pelayan toko sembako, toko besi, lalu admin di tempat laundry,
kemudian di tempat pembayaran listrik, hingga sekarang aku bekerja di sebuah
sekolah. Dari yang awalnya tidak ada bayangan aku akan kuliah, hingga tinggal
dua semester lagi aku lulus kuliah. Dia menerimaku dari nol. Dari awal yang
sederhana, menempuh perjalanan yang rumit, hingga sampai di tujuan yang indah.
Insya Allah..
Dan lagi, bukankah
cinta tidak memerlukan alasan? :)


