Minggu, 09 September 2012

Bukan Catatan Biasa


Dia sudah berkorban banyak untukku.
Tidak ada salahnya jika aku pun ingin melakukan hal kecil untuknya.
Sebuah hal yang menurut orang lain adalah aneh.
Namun berarti besar utk kita.


Terima kasih untuk segalanya.
Aku akui kau berikan warna baru dalam hidupku.
Kau berikan jalan lain untukku memaknai hidup.
Namun biarkan aku pilih jalanku sendiri.
Jalan yang menurutku adalah satu-satunya jalan yang akan membawaku kepada cahaya itu.


Jangan salahkan aku yang sudah berkeputusan.
Jangan pula kecewa jika aku menghilang.
Karena inilah yang aku nantikan sejak saat itu.
Inilah impian yang sudah lama ingin aku wujudkan..
Dan sekarang tiba saatnya untuk benar-benar membuatnya jadi nyata.

Semoga kau mengerti.

Rabu, 05 September 2012

Tulisan Jadul

Ini saya tulis saat tahun 2009, saat awal saya mulai suka menulis. Jadi ya, kata-katanya masih berantakan dan lucu. :) Waktu itu saya masih di tempat kerja karena dari siang turun hujan lebat. Saya sangat ketakutan karena saat itu saya sendirian dan angin kencang sempat membanting pintu yang padahal terbuat dari besi.



Apakah Kau Marah?


Rizki Allah memenuhi langit dan bumi, dengan derasnya.
Apakah salah jika aku minta ini agar berhenti sejenak, agar aku bisa pulang? Tapi aku tidak ingin menolak pemberian-Mu.

Apa sebenarnya yang telah aku lupakan?
Apa yang telah aku lewatkan?

Dalam kesendirian aku berpikir..
Mendadak pertanyaan itu muncul.

Sudahkah aku bersyukur hari ini?

Ya, apakah ini bentuk peringatan-Mu kepadaku yang telah lalai dalam mensyukuri nikmat-Mu?
Ampuni aku ya Allah.. Manusia macam apa aku ini, yang tidak tahu diri. Yang tidak tahu malu. Yang tidak tahu terima kasih.

Allah tidak membutuhkanku, tidak sama sekali. Akulah yang membutuhkan Allah, teramat membutuhkan Allah.

Aku bangkit dan ku kayuh sepedaku.
Tidak kupedulikan tubuhku yang basah kuyup.
Tidak kudengarkan cemoohan orang, "Kamu cari sakit ya?"
Aku terjang luapan air setinggi 30 cm itu.
Aku kira aku tidak mampu. Namun ternyata, Allah membantuku.
Aku nikmati anugerah Allah ini, dengan senyum yang semenjak tadi tidak lepas dari bibirku..

Kini aku mengerti arti bersyukur sesungguhnya.
Aku bahagia karena bersyukur.
Bukan bersyukur karena bahagia.